Minggu, 25 September 2011

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DENGAN MENGGUNAKAN METODE JIGSAW DI KELAS II DI SD AL WASHLIYAH BERASTAGI

Oleh
Jasa Fadilah Ginting









2010


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siswa merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik menerapkan keaktifan siswa dalam belajar. Namun, terkadang proses tersebut tidak dapat terlaksana dalam proses kegiatan belajar mengajar disebabkan beberapa faktor baik yang berasal dari guru maupun yang berasal dari siswa.
Dalam proses pembelajaran di kelas peneliti sendiri yang berperan sebagai guru mengalami kendala. Hasil belajar yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasus yang dihadapi peneliti dalam pembelajaran Asasmen masalah contohnya. Dalam perencanaan pembelajaran asasment masalah peneliti menggunakan metode ceramah, tetapi ketika metode tersebut digunakan ternyata hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Guru menjadi satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran, sehingga siswa menjadi pasif dalam belajar, siswa enggan untuk bertanya. Selain metode ceramah peneliti juga menerapkan metode penugasan. Akan tetapi hasil dari tugas yang diberikan juga tidak memuaskan. Dari 30 siswa kelas II SD AL WASHLIYAH BERASTAGI yang diberikan tugas hanya 30% atau 10 orang yang mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.
Dari hasil pembelajaran tersebut peneliti menduga bahwa ketidakberhasilan tersebut dikarenakan ketidaksesuaian metode yang digunakan dalam pembelajaran IPS Terpadu. Hal ini diperkuat dengan aksioma bahwa penggunaan metode belajar yang tepat akan meningkatkan hasil belajar. Jadi, pembelajaran akan memperoleh hasil yang memuaskan jika penggunaan metode yang digunakan tepat.
Hal tersebut yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Peneliti ingin menerapkan model pembelajaran Jigsaw untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran IPS sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Apakah penerapan model Pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan keaktivan siswa dalam pembelajaran IPS Terpadu di SD AL WASHLIYAH BERASTAGI?
2. Apakah penerapan model Pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas II di SD AL WASHLIYAH BERASTAGI?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Meningkatkan aktivitas siswa kelas II SD AL WASHLIYAH BERASTAGI.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SD AL WASHLIYAH BERASTAGI.


D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Bagi guru bermanfaat untuk mengetahui kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menerapkan model Jigsaw dalam pembelajaran.
2. Bagi siswa bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman, keaktivan, dan keterampilan dalam proses pembelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.














BAB II
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu tindakan yang kompleks dan sarat akan makna. Menurut Aqib (2002:43), “Belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, tidaklah dapat dikatakan bahwa padanyatel;ah berlangsung proses belajar.”
Di lain pihak Hilgard (Dalam Aqib, 2002 : 42) mengatakan bahwa Learning is the process by which activity originates or is changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural envirotment) as distinguished from changes by factors not attribute able to training.
Dalam kamus paedagogik dikatakan bahwa belajar adalah berusaha memiliki kemampuan atau kecakapan. Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatanya. Ia baru dapat melakukan sesuatu hanya dari proses belajar sebelumnya, tetapi harus diingat juga bahwa belajar mempunyai hubungan yang erat juga dengan masa peka, yaitu suatu masa di mana sesuatu fungsi maju dengan pesat untuk dikembangkan.
Dari beberapa definisi di atas peneliti menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk mengubah orang lain dari tidak tahu menjadi tahu.


B. Pengertian Aktifitas
Aktivitas menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah: Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan cara Belajar Siswa Aktif, CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitikberatkan pada keaktivan siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
Dalam penerapannya siswa dipandang sebagai subjek dalam pembelajaran. Titik berat proses pembelajaran terletak pada keaktivan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar yang dilihat dari segi masukan, proses, dan produksi.
C. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam perencanaan pembelajaran guru dapat memilih dan menentukan model pembelajaran/metode yang akan digunakan. Pada perencanaan pembelajaran perlu diperhatikan faktor-faktor pemilihan metode/model Pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran harus sesuai dengan kemampuan guru, keikhlasan bahan pelajaran, keadaan sarana, keadaan siswa, dan asas-asas pengembangan kurikulum.
Dalam perencanaan pembelajaran materi IPS Terpadu, peneliti menghendaki adanya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Secara aksioma pemilihan model pembelajaran / metode mengajar yang tepat akan meningkatkan hasil belajar.
Berangkat dari aksioma tersebut peneliti memilih model pembelajaran JIGSAW (MODEL TIM AHLI) (ARONSON, BLANEY, STEPHEN, SIKES, AND SNAPP, 1978)
Langkah-langkah :
a. Siswa dikelompokkan ke dalam = 5 anggota tim
b. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
c. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
d. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
e. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
f. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
g. Guru memberi evaluasi
h. Penutup
1. Alat Peraga dan Media Pembelajaran
Kata media berasal dari kata medium, yang artinya adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Azhar Arsyad, 2002). Apabila dikaitkan dengan kegiatan pemebelajaran maka dapat diartikan bahwa media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi yang dimaksudkan untuk pembelajaran (Heinich, et.al, 1996). Media pembelajaran selain digunakan untuk menghantarkan kegiatan pembelajaran secara utuh juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi. Dengan demikian, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan sehingga mendorong terjadinya belajar pada siswa. Azhar Arsyad (2002) menjelaskan bahwa salah satu fungsi media pembelajaran adalah ‘fungsi atensi’ yaitu bertujuan untuk menarik dan mengarahkan perhatian siswa agar berkonsentrasi kepada isi pelajaran.
Lebih lanjut, Azhar Arsyad (2002) mengelompokkan media pembelajaran dalam empat kategori, diantaranya adalah media grafis. Media grafis mempunyai beberapa bentuk yaitu foto, gambar, sketsa, diagram, grafik, papan planel, dan buletin. Dalam kesempatan ini penulis memilih bentuk diagram dengan cara menyiapkan alat peraga yaitu satu lembar karton dan beberapa potongan kartu yang berisi tentang materi pembelajaran tata cara sholat.. Pada karton tersebut disiapkan tiga diagram batang yang berfungsi sebagai tempat untuk menempelkan lembaran kartu yang telah disiapkan oleh penulis. Diagarm pertama untuk menempelkan lembaran kartu yang berisikan sunah-sunah shalat. Diagarm kedua untuk menempelkan lembaran kartu yang berisikan gambar gerakan shalat, dan diagarm ketiga untuk menempelkan lembaran kartu yang berisikan rukun shalat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada foto yang ada pada lembar lampiran.

2. PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
a. Pembelajaran Aktif
Pernyataan sederhana ini berbicara banyak tentang perlunya cara belajar aktif Lebih dari 2400 tahun silam , Konfusius menyatakan :
Yang saya dengar saya lupa
Yang saya lihat saya ingat
Yang saya kerjakan saya pahami.
Tiga pernyataan ini berbicara banyak tentang perlunya cara belajar aktif. Ada sejumlah alasan mengapa sebagian besar orang cenderung lupa tentang apa yang mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik ada kaitannya dengan tingkat kecepatan bicara guru dan tingkat kecepatan pendengaran siswa.
Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang membangun metode pembelajaran sendiri, bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya, mengukur daya nada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.
b. Pembelajaran Inovatif
Adapun pengertian inovasi dalam pengajaran dimaksudkan disini ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan .Dimaksud baru dalam pengertian tersebut adalah apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh sipenerima inovasi , meskipun mungkin bukan merupakan hal baru lagi bagi orang lain .Sedangkan Kualitatif dimaksudkan adalah bahwa inovasi tersebut memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali pada unsur-unsur dalam pendidikan. Dengan demikian tidak semata-mata penambahan atau penjumlahan dari unsur-unsur komponen yang ada sebelumnya. Sebagai tujuan utama dari inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Jadi keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Tujuan yang direncanakan mengharuskan adanya perincian yang jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai yang sedapat mungkin bisa diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi diadakan.
c. Pembelajaran Kreatif
Salah satu masalah yang selalu menarik perhatian para pakar dan masyarakat pada umumnya ialah hubungan antara intelegensi dan kreativitas. Apakah orang yang intelegensinya tinggi juga memiliki kreatifitas yang tinggi pula?, atau apakah orang yang kreatifitasnya tinggi selalu mempunyai intelegensi yang tinggi?. Guilford dengan pidatonya yang terkenal pada tahun 1950 memberi perhatian terhadap kreativitas dalam pendidikan, menyatakan bahwa pengembangan kreatifitas ditelantarkan dalam pendidikan formal, padahal amat bermakna bagi pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Kemudian dengan diajukannya model struktur intelektual, tampak perhatian terhadap kreativitas termasuk hubungan antara kreativitas dan intelegensi sangatlah meningkat, khususnya sejauh mana intelegensi berpengaruh terhadap kreativitas seseorang.
Dalam kreativitas siswa tidak terlepas dengan sikap orang tua dan guru sebagai pendorong (motivator). Tak seorangpun akan mengingkari bahwa kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri kepribadian sampai tingkat tertentu dipengaaruhi oleh faktor lingkungan seperti keluarga dan sekolah. Dalam masa sekarang dengan kemajuan dan perubahan yang begitu cepat dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan pendidik tidak dapat meramalkan dengan tepat macam pengetahuan apa yang akan dibutuhkan seorang anak lewat sepuluh tahun atau lebih untuk dapat menghadapi masalah-masalah kehidupan apabila ia dewasa.
Apa yang akan dilakukan oleh pendidik adalah mengembangkan sikap dan kemampuan anak didiknya yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan dimasa mendatang secara kreatif dan inovatif. Menjejalkan bahan pengetahuan emata – mata ak akan banyak menolong anak didik karena belum tentu dimasa mendatang ia dapat menggunakan informasi tersebut. Namun apa yang kita amati dalam masyarakat kita dewasa ini ialah , kita begitu banyak cekokan dalam arti instruksi, bagaimana melakukan sesuatu disekolah, dirumah, dan didalam pekerjaan sehingga kebanyakan dari kita kehilangan hampir setiap kesempatan untuk kreatif. Kemampuan kreatif seseorang sering begitu ditekan oleh pendidikan dan pengalamannya sehingga ia tidak dapat mengenali potensi sepenuhnya, apalagi mewujudkannya. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
d. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik serta mampu mengantarkan mereka kepada tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Seluruh peserta didik harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran sehingga suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi peserta didik. Dalam pelaksanaannya, hal ini memerlukan proses pertukaran fikiran, diskusi dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi perdebatan dan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi standar. Pembelajaran efektif perlu ditunjang oleh suasana dan lingkungan belajar yang memadai. Dan untuk itu guru harus mampu mengelola tempat belajar dengan baik, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran dan mengelola sumber-sumber belajar.
e. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (Joyfull Instruction) adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Dengan kata lain pembelajaran yang menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran yang didalamnya ada kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan .Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru bisa belajar dari peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan, karena pesatnya perkembangan teknologi informasi bisa jadi lebih cepat peserta didiknya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak ada beban baik dari guru maupun peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik dengan memilih materi yang tepat serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal. Jadi penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran secara garis besarnya digambarkan sebagai berikut:
1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3) Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ruangan ‘pojok baca’.
4) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk carabelajar kelompok.
5) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.
Untuk menciptakan Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan [PAIKEM], maka guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat komplek karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan. Karena itu, guru harus mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki tarap perkembangan yang berbeda, yang menuntut materi yang berbeda pula. Selain itu aspek psikologis menunjukkan juga pada kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri mengandung variasi, seperti belajar ketrampilan motorik, belajar konsep, dan belajar sikap. Perbedaan tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung.Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini ,guru harus menentukan secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yag harus dicapai. Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh guru menunjukkan variasi juga tidak sama antara jenis belajar yang satu dengan yang lain. Meskipun adapula kondisi yang paling dominan dalam segala jenis belajar. Untuk kepentingan tersebut, guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis –jenis belajar, kondisi internal dan eksternal peserta didik, serta menciptakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Berdasarkan hasil pengembangan visi dan misi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) salah satu metode pembelajaran berbasis lingkungan. Metode ini mampu melibatkan siswa secara langsung dengan berbagai pengenalan terhadap lingkungan. Dengan demikian selama dalam proses pembelajaran akan mengajak siswa lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
Standar kompetensi adalah merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan akan dicapai pada setiap kelas atau semester pada suatu mata pelajaran. Sedangkan kompetensi dasar (KD) adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. Dalam kesempatan kali ini, penulis memilih Standar Kompetensi (SK) pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, yaitu Standar Kompetensi 1.memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologis, dengan kompetensi dasarnya (KD) nomor 1.1.Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya. Materi ini didasarkan pada Standar Isi Pendidikan Agama Islam sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006.
Adapun alasan memilih standar kompetensi nomor 1 dan kompetensi dasar 1.1 adalah:
a. Memudahkan siswa mengetahui, menyebutkan dan menjelaskan macam-macam contoh dokumen, serta menggolongkannya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Selain itu standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut merupakan bagian yang sangat urgen diketahui siswa, karena dokumen merupakan kegiatan nyata, yang harus diketahui oleh siswa dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa yang dilakukan anak adalah sesuatu yang bermakna karena memang sesuatu yang harus mereka kerjakan.

4. RPP yang digunakan dalam Model Pembelajaran Jigsaw sebagaimana terlampir.



5. Hasil Belajar dengan Model Pembelajaran Jigsaw
Hasil belajar merupakan tingkah laku yang dimiliki seseorang akibat proses belajar yang telah dilakukannya, yang meliputi proses belajar yang dilakukan di sekolah, di masyarakat, ataupun dalam keluarga. Hasil belajar dalam tahap akhir berupa perkembangan sikap dan kepribadian siswa yang menjadi tujuan suatu proses pendidikan dan pengajaran. Dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar selalu berhubungan dengan nilai atau evaluasi.
Purwanto (1978 : 20) memberikan pengertian bahwa hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaraan yang diberikan guru klepada siswa dalam waktu tertentu. Sedangkan menurut Sudjana (1990 : 65) dikatakan bahwa hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Sementara itu Nawawi (1989 : 100) mengatakan bahwa prestasi belajar sebagai perwujudan dari hasil belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor dan diperoleh dari hasil tes mengenai materi pelajaran tersebut. Jadi, tes merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
Hasil belajar ini dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan pada siswa dalam aspek pengetahuannya (kognitif), aspek sikat atau tingkah lakunya (efektif), dan aspek keterampilan yang dicapai (psikomotorik). Dengan demikian hasil belajar yang dicapai siswa dalam pelajaran asasmen masalah merupakan hasil belajar yang ditunjukkan oleh kemampuan siswa dalam mempraktikkan dirinya sebagai pekerja sosial yang dinilai dengan menggunakan unjuk kerja sebagai alat ukurnya.
Model pembelajaran ini telah diujicobakan kepada siswa kelas II di SD N 1 Sawah Lama Kec. Tanjung Karang Timur. Siswa menunjukkan respon positif dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan Jigsaw, hal ini ditunjukkan oleh: (1) siswa merasa senang dengan cara pembelajaran yang dilakukan, (2) mereka merasa belajarnya lebih santai (tidak tegang), (3) mereka dapat bekerjasama dengan teman sekelompoknya, dan (4) mereka lebih memahami soal yang disajikan dalam bentuk kartu dan gambar. Respon positif dari siswa menjadi modal yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pelaksanaan pembelajaran di kelas menjadi lebih terarah untuk membantu siswa memahami materi. Sedangkan respon guru adalah sangat senang dengan alternatif pembelajaran dengan media kartu dan gambar karena dapat membawa anak dalam dunia mereka.
Untuk mengetahui bagaimana tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan, penulis melakukan evaluasi dengan cara penyebaran kuesioner (angket) terhadap siswa. Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyatakan sangat senang dengan model pembelajaran yang diterapkan. Dari 32 orang siswa, 30 orang (93,75%) menyatakan sangat senang dan hanya 2 orang (6,25%) yang menyatakan biasa saja. Permainan kelompok yang diterapkan dalam pembelajaran dapat menguatkan kerjasama diantara para anggota, sehingga dapat mengeratkan solidaritas diantara anggota kelompok. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang disampaikan oleh siswa, dimana 32 orang siswa (100%) menyatakan bahwa pembelajaran dalam sistem kelompok menguatkan kerjasama diantara mereka, terutama dalam menyelesaikan tugas yang diberikan agar menjadi juara. Bila ada pertanyaan yang sulit mereka selalu melakukan diskusi terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan. Semua siswa yaitu sebanyak 32 orang (100%) menyatakan berkeinginan agar kelompok mereka yang menjadi juara dalam kompetisi yang dilakukan, karena itu mereka berusaha menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. Meskipun demikian, bila kelompok mereka ternyata kalah, semua siswa (100%) menyatakan akan menerima dan tidak akan melakukan kericuhan. Hal ini disebabkan para siswa sudah menyadari bahwa perlombaan menyusun gambar sebuah permainan yang dapat memudahkan mereka mempelajari materi yang disampaikan oleh guru.
6. Prosedur penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua siklus penelitian, di mana setiap siklus terdiri dari tindakan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Namun, tidak menutup kemungkinan akan adanya siklus ketiga dalam penelitian ini.
Siklus penelitian ini dapat dilihat dari diagram sebagai berikut :

Siklus I










Siklus II


Diagram 1. Siklus Tindakan Kelas


Model Pembelajaran jigsaw tersebut telah dilaksanakan dengan berulang kali terhadap Mata Pelajaran di kelas II yang menggungakan RPP sistem Tematik. Bila kurang berhasil pada materi yang satu maka dilakukan perubahan pada materi berikutnya.
Hasil yang diperoleh siswa cukup baik, karena mereka belajar sambil bermain. Dan hasil perolehan nilai pada akhir materi pelajaran cukup memusakan. Oleh karenanya model ini tetap dilakukan dan dimodifikasi dengan model lain yakni portofolio.


BAB III
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Model pembelajaran sangat menentukan minat belajar siswa. Guru harus kreatif untuk merancang dan menampilkan model-model pembelajaran yang menarik dan berbeda pada setiap pertemuan. Sehingga siswa akan selalu merasa ingin tahu kejutan apa lagi yang akan ditampilkan oleh sang guru. Sehingga pada akhirnya kehadiran guru sangat dinantikan oleh para siswanya.

B. Saran
Untuk meningkatkan kwalitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru, maka penulis memberi saran sebagai berikut :
a. Pembinaan dan pengawasan terhadap mutu proses pembelajaran yang dilakukan guru harus tetap dilakukan secara terprogram dan berkesinambungan.
b. Guru harus mendapat penyegaran metode pembelajaran untuk membuka dan menambah wawasanya.
c. Guru yang kreatif dan inovatif, khususnya bagi mereka yang membuat alat peraga dengan inisiatif sendiri, haruslah mendapat penghargaan dari atasan atau instansi induk mereka.








DAFTAR PUSTAKA



Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendekia.
Purwamto, Ngalim. 1978. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Nasco.
Nawawi, Hadari. 1989. Pengaruh Hubungan Manusia di Kalangan Murid Terhadap Prestasi Belajar di Sekolah Dasar, Analisis Pendidikan : II Tahun 1989.
Sudjana. 1990. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar