Sabtu, 21 Desember 2013

NON TES SEBAGAI ALAT UKUR EVALUASI BELAJAR


NON TES SEBAGAI ALAT UKUR EVALUASI BELAJAR
 


I.  PENDAHULUAN

Di dalam  dunia pendidikan, kita  mengetahui bahwa setiap jenis atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan evaluasi. Artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Demikian pula dalam satu kali proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.
            Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar peserta didik, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.
Evaluasi memiliki kedudukan yang penting dalam proses pembelajaran. Dengan melakukan evaluasi, guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan.
            Berdasarkan  hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya . Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi  kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik di kemudian hari.
            Selanjutnya didalam melakukan evaluasi ada dua teknik evaluasi yang kita kenal yaitu teknik evaluasi menggunakan tes dan evaluasi dengan teknik non tes, Teknik non tes pada umumnya memegang peranan penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap (affective domain) dan ranah ketrampilan (Psychomotoric domain), sedangkan teknik tes lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitif domain).[1]Pada makalah ini penulis berkesempatan menyajikan teknik penilaian non tes secara lebih mendalam baik pengertian, bentuk-bentuknya maupun penggunannya dalam menilai hasil belajar.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian  Non Tes
Nontes adalah cara penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan tanpa menguji peserta didik tetapi dengan melakukan pengamatan secara sistematis.[2] Teknik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial  dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Dengan tenik non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observasi), melakukan wawancara (interview), menyebar angket (quistionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis),[3] dan juga dapat dilakukan dengan teknik skala nilai, teknik evaluasi partisipatif, studi kasus dan sosiometri.
B. Bentuk-Bentuk Non Tes
1. Observasi (pengamatan)
Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati.[4]
a. Kelebihan Teknik Observasi
Observasi sebagai alat penilain nontes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
1.      Observasi dapat memperoleh data berbagai aspek tingkah laku anak.
2.      Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak terhadap terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting.
3.      Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mengecek data yang diperoleh dari teknik lain, misalnya wawancara atau angket
4.      Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.
b. Macam-macam Observasi
Menurut cara dan tujuannya observasi terbagi menjadi tiga macam :[5]
1.      Observasi partisipatif dan nonpartisipatif 
2.      Observasi sistematis dan observasi nonsitematis
3.      Observasi Eksperimental
c. Kelemahan Teknik Observasi
Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
1.      Observer tidak dapat mengungkapakan kehidupan pribadi seseorang yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyanyi, dia kelihatan gembira, lincah. Tetapi belum tentu hatinya gembira dan bahagia. Mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.
2.      Apabila si objek  mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.
3.      Obserever banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol sebelumnya.
d. Langkah-langkah menyusun observasi :
Adapun Langkah-langkah menyusun observasi adalah sebagai berikut :
1.      Merumuskan tujuan
2.      Merumuskan kegiatan
3.      Menyusun langkah-langkah
4.      Menyusun kisi-kisi
5.      Menyusun panduan observasi
6.      Menyusun alat penilaian

2. Interview (wawancara)
Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan cara melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.

a.      Macam-macam wawancara[6] :
a). Wawancara terpimpin (Guided Interview).
Wawancara terpimpin  yang juga sering dikenal dengan istilahwawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic Interview). 
 Adapun yang dimaksud dengan wawancara terpimpin adalah wawancara dimana  pewawancara telah menyusun pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.
b). Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview)
Wawancara tidak terpimpin  yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis ( Non-Systematic Interview), atau wawancara bebas.
Sedangkan yang dimaksud dengan wawancara tidak terpimpin adalah        wawancara dimana si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia ketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara.
Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :
a.  Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. 
Dalam hal ini hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai 
b. Keterampilan pewawancara
Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yangdilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakanwawancara.
c.  Pedoman wawancara
Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru . Sebelum melaksanakan wawancara guru harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.

b. Kelebihan wawancara  :
1.      Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada hubungan baik antara pewawancara dengan objek 
2.      Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
3.      Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan dengan observasi dan angket.
4.      Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan objek.
c. Kelemahan wawancara:
1.    Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang diwawancarai
2.    Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksanaan wawancara.
3.    Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara.
4.    Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara.
d.      Hal-hal yang perlu diperhatikan  sebelum wawancara[7] :

1.      Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
2.      Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.
3.      Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau bentuk terbuka
4.      Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan jenis wawancara, yakni membuat pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas
5.      Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.

3. Angket (questionaire)
Angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[8]
a. Prinsip Penulisan Angket :
1.      Isi dan tujuan pertanyaan jelas
2.      Bahasa yang digunakan
3.      Tipe dan bentuk pertanyaan (terbuka atau tertutup)
4.      Pertanyaan tidak mendua.
5.      Tidak menanyakan yang sudah lupa.
6.      Pertanyaan tidak menggiring.
7.      Panjang pertanyaan (max 30 pertanyaan)
8.      Urutan pertanyaan (dari mudah ke sulit)
9.      Prinsip pengukuran
10.  Penampilan fisik angket.


4. Pemeriksaan Dokumen (Documentary Analysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai daftar pribadi (personality infentory); seperti kapan peserta didik dilahirkan, agama yang dianut dan lain-lain, dan juga mengenai riwayat hidup (auto biografi) seperti: apakah ia pernah tinggal kelas, apakah ia pernah meraih atau mendapatkan penghargaan dan masih banyak lagi yang lainya.
Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui sebuah dokumen berbentuk formulir atau blanko isian yang harus diisi pada saat peserta didik untuk pertama kali diterima sebagai siswa di sekolah yang bersangkutan.
Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik orang tua dan lingkunganya pada saat tertentu akan sangat dibutuhkan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.[9]
Melalui analisis dokumen data pribadi dapat memberikan sumber keterangan untuk mengadakan penilaian tentang data pribadi siswa, memberikan bimbingan belajar secara optimal dan mengarahkan pilihan karir jabatan dimasa mendatang.[10]


5. Skala Sikap
a. Bentuk-bentuk skala sikap
Bentuk skala sikap yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:[11]
1. Skala Likert
Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok  orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:
Setuju – tidak setuju
Suka – tak suka
Menerima –menolak
Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.
Contoh:
Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.
Alternatif jawaban :
Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )
2. Skala Guttman
Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.
3. Skala Semantik Differensial
Skala Semantik differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
4. Rating Scale
Data –data skala yang diperoleh melalui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalah data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.

b. Langakah-langkah Penyusunan Item Untuk Skala Sikap
Pada garis besarnya penysunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah – langkah sebagai berikut[12]:
1.      Tentukan obyek atau gejala apa
2.      Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut
3.      Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut
4.      Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
5.      Tentukan indikator penilaian terhadap setiap atribut tersebut
6.      Sususnlah perangkat item sesuai dengan indikator yang telah dirumuskan
7.      suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item
8.      Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk pernyataan positif dan separuhnya dalam bentuk pernyataan negatif
9.      Tentukan banyak skala: lima atau  tujuh atau sebelas alternatif
10.  tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.
6. Teknik evaluasi partisipatif
Teknik-teknik evaluasi partisipatif disini maksudnya adalah bahwa evaluator melibatkan langsung subjek yang di evaluasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian evaluasi.[13]
Teknik-teknik tersebut diantaranya:
a.      Teknik respon terperinci ( itemized responsee).
Teknik ini pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang mencakup materi atau bahan pelajaran, proses pembelajaran, keluaran atau dampak pembelajaran. Pengembangan teknik ini menuntut keterlibatan subjek-subjek yang dievaluasi secara sungguh-sungguh. Efektifitas teknik dipengaruhi oleh sejauh mana pengalaman dan kepentingan pihak yang dievaluasi erat hubunganya dengan unsur-unsur program yang sedang dikaji.
Dalam menggunakan teknik respon terperinci evaluator membuat dua kolom dan lajur pada sehelai kertas lebar atau papan tulis. Pada kolom sebelah kiri ditulis sebuah pernyataan yang berbunyi: “hal-hal yang telah dianggap baik tentang materi atau proses pembelajaran yang baru dilakukan. Pada kolom kiri ditulis “hal-hal yang masih perlu dikembangkan dalam materi astau proses pembelajaran yang baru dilakukan.
Untuk mengisi kedua kolom tersebut diatas para subjek yang dievaluasi diminta mengajukan pendapat untuk mengisi kolom sebelah kiri sampai selesai, kemudian dilanjutkan yang sebelah kanan. Dan setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menjawabnya.
Setelah semua kolom terisi, selanjutnya dapat ditanyakan kepada semua subjek tentang jawaban mana yang dianggap prioritas berdasarkan ranking yang disusun sesuai pendapat para subjek.


b. Teknik cawan iklan (fish-bowl technique).
Teknik cawan iklan adalah teknik yang digunakan dalam evaluasi dengan mengamati kegiatan diskusi yang sedang berlangsung. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok lingkaran dalam misalnya terdiri dari 7 orang dan kelompok lingakaran luar misalnya terdiri dari 13 orang.
Tempat duduk lingakaran dalam bertugas melakukan diskusi tentang berbagai topik topik, yang dipimpin oleh ketua kelompok. Kemudian tempat duduk lingkaran luar disusun melingkar diluar kelompok lingkaran dalam. Tugasnya adalah mengamati diskusi yang dilakukan subjek pada lingkaran dalam.  Apabila ada subjek dari kelompok lingkaran luar ingin bicara dilingkaran dalam maka bersangkutan harus bertukar tempat dengan seoarang yang berada dilingkaran dalam dengan cara memberi isyarat, misalnya menyentuh bahu temanya.
Teknik cawan iklan ini dapat menumbuhkan kegiatan evaluasi yang gembira, aktif, saling belajar, dan mengharuskan peserta terlibat dalam diskusi, mendengarkan dan mengamati.
7. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu. Kelebihan studi kasus dan studi lainya adalah bahwa subjek dapat dipelajari secara mendalam dan menyeluruh. Namun, kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subjektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Pada umunya permasalahanya berkenaan dengan kegagalan belajar, tidak dapat menyesuaikan diri, gangguan emosional, frustasi dan sering membolos serta kelainan-kelainan perilaku siswa.[14]
8. Sosiometri
Salah satu cara untuk megetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya, adalah teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain.[15]
Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu  atau dua temanya  yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam memilih kesempatan tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Tulislah nama pilihan tersebut pada kertas kecil, kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru, setelah seluruhnya terkumpul guru mengolahnya dengan dua cara. Cara pertama melukiskan  alur-alur pilihan dari setiap siswa dalam bentuk diagram sehingga terlihat hubungan antar siswa berdasarkan pilihanya, dengan hasil pilihan tersebut dinamakan sosiogram.
Dengan demikian, hasil dari sosiometri dapat dijadikan bahan bagi guru dalam mempelajari para siswanya terutama dalam menganalisis sebab-sebab seorang siswa termasuk kedalam siswa yang disenangi, atau sebaliknya menjadi yang terisolasi. Dengan perkataan lain sosiometri dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam menemukan kasus-kasus siswa disekolah dilihat dari hubungan sosialnya, dan dijadikan alat untuk melengkapi data mengenai perkembangan siswa.          
     III. KESIMPULAN 
Dari  uraian makalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
  1. Teknik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes.
  2. Teknik non tes pada umumnya memegang peranan penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap (affective domain) dan ranah ketrampilan (Psychomotoric domain).
  3. Teknik non tes dapat dilakukan dengan pengamatan secara sistematis,  melakukan wawancara, menyebar angket, dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen, dan juga dapat dilakukan dengan teknik skala sikap, teknik evaluasi partisipatif, studi kasus dan sosiometri.







           

           

DAFTAR PUSTAKA


Anas Sudiyono, Pengantar Evaluasi Pendidikan,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007)
Athok Fuadi, System Pengembangan Evaluasi,  (Surabaya :Ponorogo Press , 2006),
Djuju sujana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006)
H. Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , (Jakarta: PT Grasindo, 2008)
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 1991)cet. Ke-3
Oemar Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. (Bandung: Mandar Maju, 1989)


[1]. Anas Sudiyono, Pengantar Evaluasi Pendidikan,  (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 15
[3] Anas Sudiyono, Op.cit
[5] Anas Sudiyono, Op. Cit. h. 77
[7] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 1991)cet. Ke-3, hlm. 69
[9] Anas Sudiyono, Op. Cit. h. 90

[10] Athok Fuadi, System Pengembangan Evaluasi,  (Surabaya :Ponorogo Press , 2006), h.13
[11] H. Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , (Jakarta: PT Grasindo, 2008), h. 28
[12] Oemar Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. (Bandung: Mandar Maju, 1989), h. 108

[13] Djuju sujana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 202
[14] Nana Sudjana, Op. Cit. h. 94
[15] Nana Sudjana, Op. Cit. h. 99