Rabu, 18 Mei 2016

STRATEGI BELAJAR PETA KONSEP (CONCEPT MAPPING)



I.     PENDAHULUAN
 Pada zaman modern sekarang ini, masalah pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Abad mendatang merupakan suatu tantangan bagi generasi yang akan datang. Terutama bagi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional dan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]
Memasuki abad ke-21, sistim pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat komplek dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing diera global saat ini. Upaya yang tepat untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogyanya berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan. Sementara itu Komisi tentang Pendidikan Abad ke-21, merekomodasikan empat strategi dalam mensukseskan pendidikan :
1.    Pertama learning to learn, memuat bagaimana pelajar mampu mengali imformasi yang ada sekitarnya dari ledakan imformasi itu sendiri.
2.    Learning to be, yaitu pelajar diharapkan mampu untuk mengenali dirinya sendiri, serta mampu beradaptsi dengan lingkunganya.
3.    Learning to do, yaitu berupa tindakan atau aksi, untuk memunculkan ide yang berkaitan dengan sainstek.
4.    Learning to be together, yaitu memuat bagaimana kita hidup dalam masyarakat yang saling bergantung antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga mampu bersaing secara sehat dan bekerja sama serta mampu untuk menghargai oranglain.[2]
Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik, hal ini dapat dilihat dari hasil pesrta didik yang senantiasa masih sangat memperihatinkan, ini tidak lain disebabkan oleh dominannya proses pembelajaran kovensional, dimana suasana kelas masih cendrung techer-centered sehingga siswa mwnjadi fasif. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memhami bagaimana belajar, berpikir dan memotivasi diri sendiri (self motivation) padahal aspek-aspek semacam ini merupakan kunci keberhasilan dalam suatu pembelajaran.
Keberadaan guru dan siswa merupakan dua faktor yang sangat penting di mana diantara keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan mengajar guru, karena dalam proses pembelajaran guru tetap mempunyai suatu peran yang penting dalam memberikan suatu ilmu kepada anak didiknya. Salah satu masalah yang dihadapi guru dalam menyelenggarakan pelajaran adalah bagaimana menimbulkan aktifitas dan keaktifan dalam diri siswa untuk dapat belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa. Salah satu cara untuk menimbulkan aktifitas belajar siswa adalah dengan merubah kegiatan-kegiatan belajar yang monoton.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Bab 1 pasal 1 ayat 6, Standar Proses Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.[3]
Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi dan sampai sejauh mana menggubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung.[4]
Dari uraian tersebut diatas maka salah satu factor untuk mencapai tujuan pendidikan adalah salah satunya dengan strategi pembelajaran dan starategi belajar yang bervariatif dan menyenangkan sesuai dengan situasi dan kondisi kelas serta materi apa yang sedang diajarkan, sehingga terhindar dari pembelajaran yang hanya berpusat pada guru. Diharapkan dengan belajar strategi belajar anak akan lebih aktif, kreatif dan inovatif dan guru sebagai pendamping dan sebagai motivator.

II. PEMBAHASAN
A.  Pengertian Strategi Belajar
1.      Pengertian  Strategi Belajar
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian strategi adalah “rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai kegitan khusus”.[5]
Sedangkan belajar adalah “berusaha memproleh kepandaian atau ilmu”, “berubah tingkah laku atau tanggaban  yang disebabkan oleh penggalaman”.[6]
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar  untuk mencapai tujuan yang digariskan.[7]
Dalam pikiran kebanyakan praktisi pendidikan, makna dan hakekat belajar sering kali hanya sebagai penerima. Di dalam sejarah dunia pendidikan guru merupakan sosok figur teladan bagi siswa/i yang harus memiliki strategi dan teknik-teknik dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sistem intruksional merupakan interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya, dan guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran agar lebih aktif dan efektif secara optimal. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya di sebut metode mengajar. Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau insturktur kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran itu dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Di dalam kenyatan cara atau metode mengajar atau teknik penyajian yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi atau message lisan kepada siswa, berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Maka, yang disebut dengan strategi belajar mengajar ialah memikirkan dan mengupayakan konsistansi aspek-aspek komponen pembentuk kegiatan sistem intruksional dengan siasat tertentu. Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru – anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan mempelajari Strategi Belajar Mengajar berarti setiap guru  mulai memasuki suatu kegiatan yg bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yg bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dgn memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pembelajaran.
Sehingga bahan pelajaran yg disampaikan guru dapat difahami dan diaplikasikan siswa dengan tuntas.
2.      Macam-macam strategi belajar (Learning Strategis)
Berdasarkan teori kognitif dan pemerosesan imformasi, maka terdapat beberapa strategi belajar yang dapat digunakan dan diajarkan, yaitu :
 a)      Strategi mengulang (rehearsel strategis)
·      Mengarisbawahi
·      Membuat catatan-catatan pinggir
b)      Strategi-strategi elaborasi (elaboration strategis)
·       Pembuatan catatan
·      Analogi
·      PQ4R
c)      Strategi organisasi (organization strategis)
·      Outlining
·      Pemetaan konsep
·      Mnemonics
·      Chunkin (potongan)
·      Akronim (singkatan)
d)     Strategi Metakognitif (metacognitive strategis).[8]
B.   Strategi Belajar Peta Konsep (Consept Mapping)
1.      Pengertian Belajar Peta Konsep
Peta konsep adalah tehnik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan.
Pendekatan keseluruhan otak yang menbuat kita mampu membuat catatan yang menyeluruh dalam satu halaman. Dengan menggunakan citra visual dan perangkat grafis lainnya.
Tehnik pencatatan ini dikembangkan pada tahun 1970-an oleh Tony Buzan dan didasarkan pada riset tentang bagaimana cara kerja otak yang sebenarnya. Otak sering kali mengingat informasi dalam bentuk gambar, symbol, suara, bentuk-bentuk dan perasaan. Peta konsep menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik ini dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan dan merencanakan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Ini jauh lebih mudah daripada metode pencatatan tradisional karena ia mengaktifkan kedua belahan otak (karena itu disebut dengan istilah “pendekatan keseluruhan otak”). Cara ini juga menenangkan, menyenangkan dan kreatif. Pikiran tidak akan menjadi mandeg karena mengulangi catatan, jika catatan-catatan tersebut dibuat dalam bentuk peta konsep.[9]
Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkrit yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal yang dihubungkan kekonsep-konsep lain pada kategori yang sama (Martin, 1994).[10]
Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas maka Dahar (1989) yang dikutip oleh Erman (2003), mengemukakan ciri-ciri peta konsep adalah sebagai berikut :
a.       Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisiproposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan mengunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
b.      Suatu peta konsep merupakan gambar dua demensi dari suatu bidang studi  atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan proposional antara konsep-konsep.
c.       Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep lain.
d.      Bila dua atau lebih konsep digambarkan dibawah suatu konsep  yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep tersebut.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, maka sebaiknya peta konsep disusun secara hierarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakan pada puncak peta makin kebawah konsep-konsep diurutkan menjadi kurang inklusif.
Peta konsep dapat dikembangkan secara indidual atau dalam atau dalam kelompok kecil. Siswa mengatur sejumlah konsep atau kunci-kunci pada suatu halaman kertas, kemudian menghubungkannya dengan garis-garis dan sepanjang garis itu ditulis suatu kata atau ungkapan yang menjelaskan antar kata-kata atau konsep-konsep.[11]
1.      Cara Membuat Peta konsep
Untuk membuat peta konsep, gunakan pulpen berwarna dan mulailah dari bagian tengah kertas. Gunakan kertas secara melebar untuk mendapatkan lebih banyak tempat. Lalu ikuti langkah-langkah berikut:
  1. tulis gagasan utamanya di tengah-tengah kertas dan lingkupilah dengan lingkaran, persegi atau bentuk lain. Misalnya, peta konsep dilingkupi oleh gamba bohlam
  2. tambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap poin atau gagasan utama. Jumlah cabang-cabangnya akan bervariasi, tergantung dai jumlah gagasan atau segmen. Gunakan warna yang berbeda untuk tiap-tiap cabang.
  3. tulislah kata kunci atau frase pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan untuk detail. Kata-kata kunci adalah kata-kata yang menyampaikan inti sebuah gagasan dan memicu ingatan. Jika menggunakan singkatan, pastikan bahwa mengenal singkatan-singkatan tersebut, sehingga dengan mudah segera mengingat artinya selama berhari-hari atau berminggu-minggu setelahnya.
  4. tambahkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik
  5. tulis gagasan utamanya di tengah-tengah kertas dan lingkupilah dengan lingkaran, persegi atau bentuk lain. Misalnya, peta konsep dilingkupi oleh gamba bohlam
  6. tambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap poin atau gagasan utama. Jumlah cabang-cabangnya akan bervariasi, tergantung dai jumlah gagasan atau segmen. Gunakan warna yang berbeda untuk tiap-tiap cabang.
  7. tulislah kata kunci atau frase pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan untuk detail. Kata-kata kunci adalah kata-kata yang menyampaikan inti sebuah gagasan dan memicu ingatan. Jika menggunakan singkatan, pastikan bahwa mengenal singkatan-singkatan tersebut, sehingga dengan mudah segera mengingat artinya selama berhari-hari atau berminggu-minggu setelahnya.
  8. tambahkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik
  9. tulis gagasan utamanya di tengah-tengah kertas dan lingkupilah dengan lingkaran, persegi atau bentuk lain. Misalnya, peta konsep dilingkupi oleh gamba bohlam
  10. tambahkan sebuah cabang yang keluar dari pusatnya untuk setiap poin atau gagasan utama. Jumlah cabang-cabangnya akan bervariasi, tergantung dai jumlah gagasan atau segmen. Gunakan warna yang berbeda untuk tiap-tiap cabang.
  11. tulislah kata kunci atau frase pada tiap-tiap cabang yang dikembangkan untuk detail. Kata-kata kunci adalah kata-kata yang menyampaikan inti sebuah gagasan dan memicu ingatan. Jika menggunakan singkatan, pastikan bahwa mengenal singkatan-singkatan tersebut, sehingga dengan mudah segera mengingat artinya selama berhari-hari atau berminggu-minggu setelahnya.
  12. tambahkan simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi untuk mendapatkan ingatan yang lebih baik.[12]
Arend (1997:258) yang dikutip dalam buku Trianto M.Pd, memberikan langkah-langkah dalam membuat peta konsep adalah sebagai berikut :
1.      mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep. Contoh, ekosistim.
2.      Mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep skunder yang menunjang ide utama. Contoh, individu, populasi, dan komunitas.
3.      Tempatkan ide-ide utama ditengah atau dipuncak peta tersebut.
4.      Kelompokan ide-ide sekunder disekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.[13]
Sedangkan menurut Mel Silberman dalam bukunya Aktive Learning 101 Strategi pembelajaran aktif ada beberapa prosedur dalam membuat peta konsep adalah sebagai berikut :
1.      Pilihlah topik untuk pemetaan pikiran,yang mencakup :
a.       Problem atau isu tentang ide-ide yang anda inginkan untuk menciptakan ide-ide aksi.
b.      Konsep atau kecakapan yang baru anda ajarkan
c.       Penelitian yang harus direncanakan oleh siswa.
2.      Kontruksikan bagi kelas peta pikiran yang sederhana yang mengunakan warna khayalan atau simbol
3.      Berikanlah kertas pena dan sumber-sumber yang lain yang anda pikirkan akan membantu peserta didik membuat peta pikiran yang indah, berilah peserta didik tugas memtakan pikiran
4.      Berikan waktu yang banyak bagi peserta didik untuk mengembangkan peta pikiran mereka.
5.      Perintahkan kepada peserta didik untuk membagi peta pikirannya, lakukan nilai cara kreatif untuk mengambarkan ide-ide.[14]
2.      Macam-macam Peta Konsep
Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).[15]

1. Pohon Jaringan. (Network Tree)
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) menunjukan sebab akibat, (b) suatu hierarki, (c) prosedur yang bercabang, dan (d) istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan. Contoh :
Keterangan gambar :
1.         Karang: hewan laut berkapur yang membentuk karang.
2.         Radiolaria: sejenis plankton renik yang memiliki rangka silika.
3.         Moluska dua cangkang kapur. Dalam fosil, organ-organ keras seperti ini seperti diawetkan.
4.         Graptolit:
5.         Fosil dengan rangka organis yang umumnya meninggalkan jejak dalam batu
6.         serpih hitam.
7.         Mahluk-mahluk ini hidup  dalam kelompok
8.         Gigi hiu: Tulang dan gigi terdiri atas umumnya fosfor, yang membuatnya lebih awet dibandingkan dengan by organ berjaringan lunak.
9.         Fosil jejak: Fosil-fosil yang terbentuk oleh jejakjejak yang tampak pada endapan.
10.     Amonit: Satu spesimen yang cangkangnya telah digantikan oleh pirit          besi dan terawetkan.
11.     Pohon membatu: Seiring waktu, sel-sel kayu pohon digantikan oleh silika dan membatu.
12.     Damar: Organisme-organisme kecil terawetkan dalam getah.. Daun terkarbonkan: Tetumbuhan beralihrupa menjadi serat-serat karbon.
2        Rantai Kejadian (Event Chain)
Nur (2003), merupakan, bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Dalam membuat rantai kejadian, temukan kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian disebut kajian awal, kemudian temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutkan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) memberikan tahapan-tahapan dari suatu proses. ;( b) langkah-langkah dalam suatu prosedur linier; dan (c) suatu urutan kejadian.

3. Peta Konsep Siklus (Cyle Concept Map)
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasilyan yang berulang-ulang.
 
4. Peta Konsep Laba-laba (Spider Concept Map)
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide sentral, sehingga dapat memproleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide dan ini berkaitan dengan ide sentral itu namun belum jelas hubungannya satu sama yang lainnya. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) tidak menurut herarki, (b) kategori yang tidak parallel dan (c) hasil curah pendapat.
Proses mengajarkan strategi belajar digunakan dua pendekatan pengajaran utama, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran terbalik (Nur 2000b: 45). Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Dalam melatihkan strategi belajar secara efektif memerlukan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional tentang strategi-strategi belajar. Pengetahuan deklaratif tentang strategi-strategi tertentu termasuk bagaimana strategi itu didefinisikan, mengapa strategi itu berhasil, dan bagaimana strategi itu serupa atau berbeda dengan strategi-strategi lain. Siswa juga memerlukan pengetahuan prosedural, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam strategi secara efektif. Di samping itu juga menggunakan pengetahuan kondisional untuk mengetahui kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu.
Salah satu alasan menggunakan pengajaran langsung dalam mengajarkan strategi belajar adalah karena pengajaran langsung diciptakan secara khusus untuk mempermudah siswa dalam mempelajari pengetahuan deklaratif dan prosedural yang telah direncanakan dengan baik serta dapat mempelajarinya selangkah demi selangkah (Arends 1997) dalam Nur (2000b: 46).
 
III. PENUTUP 
Peta konsep adalah tehnik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan.
Pendekatan keseluruhan otak yang menbuat kita mampu membuat catatan yang menyeluruh dalam satu halaman. Dengan menggunakan citra visual dan perangkat grafis lainnya.
Peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
 

DAFTAR PUSTAKA

Bobbi DePorter,Quantum Teaching, Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas, Bandung, Kaifa, 2005
Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka,1990
Drs.H.Martinis Yamin, M.Pd dan Dr.Bansu I.Ansori, M.Pd, Taktik mengembangkan Kemampuan Individual siswa, Gaung Persada Press Jakarta 2008
Mel Silberman, Aktive Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani, Yogyakarta 2009
Nur, M. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakekat Sains, University Presss, Surabaya 2003
Peraturan Pemerintah RI No. 19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta, Asa Mandiri, 2006
Trianto, M.Pd. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep Landasan dan Implementsinya pada KTSP. Kencana Media Group Jakarta 2010
Undang-undang RI, No 20 Tahun 2003, Tentang Sistim Pendidikan Nasional, Citra Umbara Bandung, Tahun 2003
Dr.Wina Sanjaya, M.Pd, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Perdana Media Group, Jakarta 2008
Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disain Pembelajaran, Kencana Perdana Media Group, Jakarta 2008.


[1] Undang-undang RI, No 20 Tahun 2003, Tentang Sistim Pendidikan Nasional, Citra Umbara Bandung, Tahun 2003, hlm  7.
[2] Trianto, M.Pd. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Konsep Landasan dan Implementsinya pada KTSP. Kencana Media Group Jakarta 2010, hlm. 5

[3] Peraturan Pemerintah RI No. 19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta, Asa Mandiri, 2006, h; 100

[4] Bobbi DePorter,Quantum Teaching, Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas, Bandung, Kaifa, 2005, h;3

[5] Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Jakarta, Balai Pustaka,1990,h 859.
[6] Ibid, hlm. 13
[7] Trianto, M.Pd, Op.Cit., h.139
[8] Trianto, Op.Cit,.h 144-149
[9] Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,Bandung, Kaifa, 2003, h; 152
[10]  Trianto M.Pd, Op.Cit, h 158.
[11]  Drs.H.Martinis Yamin, M.Pd dan Dr.Bansu I.Ansori, M.Pd, Taktik mengembangkan Kemampuan Individual siswa, Gaung Persada Press Jakarta 2008 h.38
[12] Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, Op cit, h 156.

[13]  Trianto. M.Pd, Op Cit, h 160
[14]  Mel Silberman, Aktive Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani, Yogyakarta 2009, h 190.
[15] Nur, M. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakekat Sains, University Presss, Surabaya 2003, h 24.

Selasa, 10 November 2015



EKSISTENSI ADAT ISTIADAT KARO DALAM PEMBENTUKAN MASYARAKAT  MULTIKULTURAL DI KABUPATEN KARO
PROVINSI SUMATERA UTARA
Oleh
 JASA FADILAH GINTING

A.      Pendahuluan
Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll. Karena itulah yang terpenting dalam pendidikan multikultural adalah seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai dan mampu secara profesional mengajarkan mata pelajaran diajarkan. Lebih dari itu, seorang pendidik juga harus mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme atau menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif pada siswa. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan dari sekolah/universitas tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.
Bila kita mencermati berbagai kasus terjadinya konflik keagamaan akhir-akhir ini, salah satu faktor penyebabnya adalah adanya paradigma keberagamaan masyarakat yang bersifat eksklusif. Karena itu, diperlukan langkah-langkah preventif untuk mencegah berkembangnya paradigma tersebut, yaitu dengan membangun pemahaman keberagamaan yang lebih inklusif-pluralis, multikultural, humanis, dialogis-persuasif, kontekstual melalui pendidikan, media massa, dan interaksi sosial.
Bagaimana membangun pemahaman keberagamaan siswa yang inklusisf di sekolah? Dalam hal ini, guru mempunyai posisi penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan inklusif di sekolah. Adapun peran guru di sini, meliputi; pertama, seorang guru harus mampu bersikap demokratis, baik dalam sikap maupun perkataannya tidak diskriminatif. Kedua, guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kejadian-kejadian tertentu yang ada hubungannya dengan agama. Misalnya, ketika terjadi bom Bali (2003), maka seorang guru yang berwawasan multikultural harus mampu menjelaskan keprihatinannya terhadap peristiwa tersebut. Ketiga, guru seharusnya menjelaskan bahwa inti dari ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh ummat manusia, maka pemboman, invasi militer, dan segala bentuk kekerasan adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Keempat, guru mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan keragaman budaya, etnis, dan agama.
Dalam kajian ini penulis mengangkat tentang multicultural di tengah tengah masyarakat yang berdomisi di daerah Berastagi Kab. Karo Sumatera Utara.
B.       Adat Istiadat Karo
1.    Marga Marga Karo
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Masyarakat Karo mempunyai sistem marga (klan). Marga atau dalam bahasa Karo disebut merga tersebut disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima, yang berarti marga yang lima. Kelima merga tersebut adalah:
a.         Karo – Karo.
b.        Tarigan.
c.         Ginting
d.        Sembiring
e.         Perangin – angin.
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara otomatis dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut jugaersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah diantara mereka.
Bahasa Batak Karo adalah bentuk bahasa Austronesia Barat yang digunakan di daerah Pulau Sumatera sebelah utara pada wilayah Kepulauan Indonesia.[1] Istilah “Batak” sendiri mengacu pada sekumpulan kelompok yang memiliki kaitan secara kultural yang mendiami sebagian besar wilayah pedalaman Provinsi Sumatera Utara yang berpusat di daerah Danau Toba.[2] Tiap-tiap kelompok ini memiliki riwayat, tatanan sosial, serta bahasa yang khas satu sama lain.
Masyarakat Batak Karo sendiri bermukin di wilayah sebelah barat laut Danau Toba yang mencakup luas wilayah sekitar 5.000 kilometer persegi yang secara astronomis terletak sekitar antara 3′ dan 3’30″ lintang utara serta 98′ dan 98’30″ bujur timur. Wilayah Tanah Karo tersusun atas dua wilayah utama sebagai berikut:
Dataran tinggi Tanah Karo, yang mencakup seluruh wilayah Kabupaen Karo dan pusat administratifnya di kota Kabanjahe. Wilayah dataran tinggi Tanah Karo ini menjorok ke selatan hingga masuk ke wilayah Kabupaten Dairi (khususnya Kecamatan Taneh Pinem dan Tiga Lingga), serta ke arah timur masuk ke bagian wilayah Kecamatan Si Lima Kuta yang terletak di Kabupaten Simalungun. Masyarakat Karo menyebut wilayah pemukiman dataran tinggi ini dengan nama Karo Gugung.
Dataran rendah Tanah Karo yang mencakup wilayah-wilayah kecamatan dari Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang yang terletak pada bagian ujung selatan secara geografis ( namun tertinggi secara topografis). Wilayah ini dimulai dari plato Tanah Karo yang membentang ke bawah hingga mencapai sekitar kampung-kampung Bahorok, Namo Ukur, Pancur Batu, dan Namo Rambe yang ada di sebelah utara, serta Bangun Purba, Tiga Juhar, dan Gunung Meriah di sisi timur. Masyarakat Karo menyebut daerah ini dengan nama Karo Jahe (Karo Hilir).
Wilayah dataran tinggi Tanah Karo dianggap sebagai pusat kebudayaan dan tanah asli nenek moyang masyarakat Batak Karo. Di wilayah ini, bahasa tidak banyak tersentuh oleh pengaruh-pengaruh luar dan ikatan kekerabatan serta kehidupan tradisional masih terpelihara sangat kuat. Kebanyakan masyarakat dataran tinggi Karo hidup dari bercocok tanam kecil-kecil dengan menanam padi dan sayur-sayuran untuk konsumsi sehari-hari serta berbagai tanam-tanaman komersial untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Wilayah pemukinan dataran rendah yang ada di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang umumnya lebih terorientasi pada produksi tanam-tanaman budidaya seperti karet dan kelapa sawit. Wilayah dataran rendah Karo ini lebih banyak menyerap pengaruh masyarakat Melayu pesisir yang pada umumnya menganut agama Islam dan terkadang mengharuskan mereka menyisihkan nama marga mereka sehingga hubungan kekerabatan dengan sanak-saudara mereka di dataran tinggi jadi terputus.
Selain kefasihan dalam berbahasa Karo, ciri identitas terpenting seorang Karo dapat diketahui dari nama marga yang bersangkutan. Orang-orang Karo memiliki lima macam klan patrilineal atau marga, yaitu Karo-karo, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Peranginangin. Tiap-tiap marga ini terpecah lagi menjadi 13 hingga 18 submarga, sehingga secara keseluruhan dapat dijumpai sbanyak 83 submarga[3]. Seluruh marga dan submarga ini merupakan nama-nama khas yang ada pada masyarakat Karo, namu sering juga tampak memiliki keterkaitan dengan nama-nama marga dari kelompok masyarakat suku-suku Batak lain, khususnya masyarakat Batak Simalungun dan Batak Pakpak. Identitas dan subetnis orang Batak ini pada umumnya dapat langsung diketahui dari nama marganya, misal marga Tarigan dan Sembiring adalah marga khas Batak Karo,  nama Saragih dan Damanik adalah marga khas Batak Simalungun, nama Bancin dan Berutu adalah marga khas Batak Pakpak, dan sebagainya. Dalam hal ini terdapat juga nama-nama marag yang sama dari asal subetnis Batak lain, maka nama-nama tertentu semacam ini biasanya selalu disebutkan berikut dengan subetnisnya pada saat memperkenalkan diri dengan anggota subentis Batak lain, misalnya “Saya Purba Karo” atau “Saya Purba Simalungun”. Seseorang yang berasal dari luar masyarakat Karo yang hendak bergabung ke dalam masyarakat Karo juga diberikan nama marga patrilineal atau matrilineal Karo karena tanpa memiliki acuan identitas sosial semacam ini yang bersangkutan mustahil berinteraksi dalam acara-acara penting di luar batas kegiatan sehari-hari.
Istilah “Batak” umumnya tidak digunakan pada saat mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain kecuali jika mereka sedang memperkenalkan diri mereka dengan orang-orang dari etnis lain (Sunda, Jawa, dll). Di kalangan masyarakat mereka maupun subetnis Batak lain biasanya mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “kalak Karo” atau orang Karo. Sedangkan bahasa asli Karo mereka sebut sebagai “cakap Karo” atau “bahasa Karo“.  Berbeda halnya dengan kaum masyarakat Batak Pakpak dan Batak Simalungun yang bertetangga dengan mereka, masyarakat Karo belum begitu banyak terpengaruh oleh bahasa dan budaya masyarakat Batak Toba. Selain dari kaum anak-anak dan kaum usia lanjut, orang-orang Karo umumnya juga mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia.
2.      Daliken sitelu
Teori yang dipergunakan adalah teori pengendalian sosial dan nilai budaya yang dominan didalam daliken si telu.
Pengendalian sosial adalah suatu proses, baik yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, membimbing atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku. Pada prinsipnya pengendalian sosial terjadi apabila suatu kelompok menentukan tingkah laku kelompok lain, apabila kelompok mengendalikan prilaku kelompoknya, atau kalau pribadi-pribadi mempengaruhi tingkah laku pihak lain, baik apabila hal itu sesuai dengan kehendaknya atau tidak. Maka pengendalian sosial adalah suatu sarana yang ada dalam masyarakat untuk mempengaruhi, untuk mengkontrol semua tingkah laku warganya ketika akan bersosialisasi. Melalui sosialisasi ini, setiap warga masyarakat akan dituntun kearah sikap tunduk dan patuh pada norma-norma, nilai-nilai budaya, aturan yang ada atau yang dikehendaki oleh masyarakat. Tujuan pengendalian sosial terutama untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, dan untuk mencapai keadaan damai melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan/keseimbangan.
Daliken si telu adalah bagian dari masyarakat Karo yang merupakan landasan bagi sistem kekerabatan dan semua kegiatan khususnya kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat-istiadat dan interaksi antar pada Masyarakat Karo. Daliken si telu ini didukung oleh tiga aktor yang dikenal dengan kalimbubu, sembuyak/senina, dan anak beru. Hal ini maka setiap individu Karo terikat kepada daliken si telu. Melalui daliken si telu masyarakat Karo saling berkerabat, baik berkerabat karena hubungan darah (seketurunan), maupun berkerabat karena hubungan perkawinan. Adapun nilai-nilai yang dominan yang terdapat didalam daliken si telu adalah nilai gotong royong dan kekerabatan.
Seperti telah dikemukakan bahwa pengendalian sosial terjadi apabila suatu kelompok menentukan tingkah laku kelompok lain, kelompok mengendalikan prilaku anggotanya, atau kalau pribadi-pribadi mempengaruhi tingkah laku pihak lain. Dengan kata lain, pengendalian terjadi apabila seseorang diajak atau dipaksa untuk bertingkah laku sesuai dengan keinginan pihak lain, baik apabila hal itu sesuai dengan kehendaknya maupun tidak, dan pengendalian sosial juga merupakan suatu kekuatan untuk mengorganisir tingkah laku sosial budaya, sehingga pengendalian sosial mempunyai kekuatan yang membimbing manusia. Sedangkan adat istiadat tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat yang nyata, yang berisi norma-norma yang telah berlaku sepanjang masa walau pun sama sekali tidak mempunyai alat memaksa seperti hukum, norma-norma tetap diwariskan secara turun temurun sehingga merupakan sesuatu yang harus dipatuhi, ketika menyelenggarakan kepentingan bersama. Adat istiadat mengandung makna hukum yang memiliki fungsi pengatur, penertib dan pengaman kehidupan masyarakat, juga sebagai penggerak dan pendorong pembangunan, dan perubahan menuju masyarakat yang dicita-citakan.
Dalam hal ini hubungan daliken si telu dengan pengendalian sosial jelas. Didalam “tubuh” daliken si telu ada dua unsur, pertama adalah sistem sosial yang bersifat terbuka yaitu kalimbubu, sembuyak/senina, dan anak beru. Seseorang berkedudukan sebagai kalimbubu bargantung kepada situasi dan kondisi, demikian sebaliknya. Ini berhubungan dengan manusia sebagai subjek dan objek. Unsur kedua adalah psiko budaya, ini berhubungan dengan nilai, nilai ini berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan, untuk mengikat aktor yang tiga tersebut dalam jaringan kekerabatan. Jadi, memahami hubungan daliken si telu melalui pendekatan pengendalian sosial adalah memahami bagaimana caraberpikir dan cara bertindak aktor yang tiga (kalimbubu, sembuyak/senina, dan anak beru), baik secara kelompok (kalimbubu, sembuyak/senina, anak beru), maupun secara pribadi, berdasarkan nilai kekerabatan, kebersamaan dan gotong royong yang dilandasi nilai kasih sayang, untuk mengajak, mengarahkan, membina, membimbing atu bahkan memaksa warga masyarakat Karo agar mau mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah adat istiadat karo.
Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa daliken si telu sebagai bagian dari budaya Karo, tetap berperan penting. Bahkan bila muncul masalah-masalah sosial didalam keluarga masyarakat Karo, masalah itu baru dikatakan tuntas, selesai, dan sah, bila daliken si telu pihak bermasalah ikut berpartisipasi menyelesaikannya. Jalan keluar yang ditawarkan daliken si telu bervariasi, bergantung kepada masalah yang muncul. Sebagai contoh misalnya masalah penyimpangan dalam perkawinan, bila salah seorang calon pengantin bukan berasal dari etnis Karo, pihak daliken si telu calon pengantin yang beretnis Karo, selalu menyarankan agar calon pengantin etnis non Karo tersebut disyahkan menjadi “orang Karo” yaitu diberikan klen (merga/beru), dan sekaligus diberikan orang tua adatnya. Peranan orang tua adat dalam bidang-bidang tertentu (diluar adat istiadat karo) sama dengan orang tua kandungnya, tetapi dalam bidang-bidang tertentu (didalam adat istiadat karo) jelas jauh melebihi orang tua kandungnya yang bukan berasal dari etnis karo. Pemberian klen ini bukan bertujuan untuk mengkaronisasikan etnis non karo yang ingin berjodoh dengan etnis Karo, tetapi bertujuan agar mekanisme daliken si telu tetap berfungsi semestinya, dengan demikian hubungan kekerabatan dengan keluarga pihak impal (calon suami atau istri menurut adat istiadat karo) dari etnis karo yang kebetulan menikah dengan non karo tetap terjalin erat. Keuntungan lain adalah, bila muncul masalah-masalah sosial dalam keluarga pembauran ini, dia dapat memilih mau diselesaikan berdasarkan jalur hukum negara yang berlaku boleh, diselesaikan sesuai dengan hukum adat karo juga boleh. Kepada yang bermasalah tinggal memilih, jalur mana yang hendak dipergunakan. Keuntungan lain dengan pemberian klen ini, khususnya bila calon pengantin itu wanita, bila kelak suaminya meninggal dunia, dia berhak mewarisi tanah adat yang ada dimiliki suaminya. Keuntungan lain adalah kedudukan orang yang diberi klen (marga/beru) menjadi jelas dalam struktur adat Karo. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga pembaruan ini, kedudukannya sama didalam adat dengan keluarga yang kedua orang tuanya sama-sama satu etnis. Berhak mendapat pelayanan berdasarkan adat istiadat karo. Sedangkan kerugiannya (a). bagi wanita non karo yang menikah dengan pria karo, si wanita tidak mempunyai beru, maka keluarganya tidak mempunyai kalimbubu sierkimbang, dan anaknya tidak mempunyai kalimbubu daerah berdasarkan konsep daliken si telu, karena anak-anaknya yang dilahirkan tidak mempunyai kalimbubu daerah, dia tidak berhak mendapatkan harta warisanadat hal ini karena pembagian harta warisan ada melibatkan pihak daliken si telu. Bila ada acara-acara adat Karo, tidak ada yang mengosei (meminjamkan dan memakaikan pakaian adat) kepada suaminya. Bila timbul sengketa didalam keluarga yang mereka bina, tidak dapat diselesaikan menurut adat istiadat (Karo). Bila ada acara-acara adat, si istri (wanita) menjadi canggung karena tidak mengetahui dimana posisinya dalam acara adat tersebut, kalaupun tahu posisinya, tetap tidak sah menurut adat istiadat Karo. Kalau si istri meninggal dunia, dia tidak berhak dimakamkan dipekuburan keluarga suaminya, demikian pula anak-anak yang dilahirkannya. Si istri tidak berhak mengelola harta warisan marga suaminya, demikian pula dengan anak-anak yang dilahirkannya walaupun mereka memiliki anak laki-laki. Kerugian bagi anak kandungnya, anak kandungnya tidak mempunyai marga/beru dalam struktur adat Karo, si anak tidak memiliki struktur yang lengkap menurut adat karo, apakah sebagai kalimbubu, anak beru, senina/sembuyak. (b). bagi pria non karo yang menikah dengan wanita karo, bila timbul sengketa dalam rumah tangga mereka, tidak dapat diselesaikan menurut adat istiadat Karo, bila ada acara-acara adat dalam keluarga istrinya si suami akan menjadi canggung karena tidak mengetahui posisinya dalam acara adat tersebut, kalaupun tahu posisinya, tetap tidak sah menurut adat istiadat karo, si pria tidak mempunyai klen (marga), maka keluarga yang mereka bina tidak mempunyai anak beru berdasarkan daliken si telu. Demikian pula dengan anak-anak yang mereka lahirkan tidak mempunyai anak beru berdasarkan adat istiadat karo. Bagi anak kandungnya, anak kandungnya tidak mempunyai anak beru dalam struktur adat Karo, si anak tidak memiliki struktur yang lengkap dalam adat karo, apakah sebagai kalimbubu, anak beru, sembuyak/senina. Pemberian klen ini sifatnya seumur hidup untuk wanita, karena begitu siwanita meninggal dunia, klen yang diterimanya tidak dapat diwariskan kepda anak-anak yang dilahirkannya. Berbeda dengan pria selamanya (abadi), hal ini disebabkan masyarakat Karo berdasarkan sistem patrilineal, pria yang menurunkan garis keturunan. Bila kepada seorang pria telah diberikan klen, klen yang telah diterimanya, dapat disandang (diwariskan) sampai ke anak cucunya, dengan tetap bersandarkan sistem kekerabatan orang yang memberinya klen tersebut.
Pembagian harta warisan didasarkan kepada nilai patrilineal yaitu harta warisan yang tidak bergerak diwariskan kepada anak laki-laki sebagai penerus generasi keluarga. Konflik diselesaikan berdasarkan semangat kekerabatan dan persaudaraan. Suka duka dihadapi dengan nilai atau semangat gotong royong dan persaudaraan.[4]
3.    Penerimaan masyarakat Terhadap agama dan suku yang berbeda.
Masyarakat Karo khususnya di Berastagi memeluk berbagai agama yakni, Kristen Protestan , Katolik, Islam, Hindu dan Budha. Dari lima agama tersebut yang dominan penganutnya adalah Kristen yang dikenal dengan dalam kelompok GBKP ( Geraja Batak Karo Protestan). Sedangkan Islam merupakan kelompok minoritas.
Disamping masyarakat asli Karo, juga banyak masyarakat pendatang yang terdiri dari suku Mandailing, Batak Toba, Simalungun, Pakpak, Padang, Jawa, Aceh, dan lain-lain.  Mereka hidup rukun tanpa pernah mempersoalkan agama dan suku. Hal ini dapat dilihat dalam kebiasaan hidup sehari – hari. Apabila ada acara pesta perkawinan, maka semua kelurga dan sahabat dari berbagai suku saling mengundang satu sama lain. Yang penting antara satu sama lain saling mengerti dan memahami perbedaan sehingga tercipta kerukunan. Kunci kerukunan tersebut antara lain:
1.    Tidak membicarakan agama antara sesama selain di tempat tempat tertentu, yakni pengajian dan mesjid, begitu juga Kristen mereka akan membicarakan  agama di tempat perkumpulan mereka dan di gereja.
2.    Bila yang melaksanakan pesta beragama Kristen, maka acara makan dilaksanakan dengan do’a agama Kristen. Dan apabila yang pesta beragama Islam maka acara makan dilakukan dengan doa Islami.
3.    Dalam acara adat hanya bercerita tentang adat istiadat, baik bertutur kata atau dalam  perkenalan antara sesama suku atau lain suku sehingga memunculkan keakraban antar sesama.
C.      Penutup

Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa Karo merupakan salah satu daerah yang memiliki suku tersendiri dengan system budaya yang berbeda dengan daerah lain. Masyarakat karo memandang adat istiadat merupakan hal yang terpenting. Oleh karena itu siapa saja yang berdomisili di Kabupaten Karo bila mengikuti adat tersebut, maka mendapatkan rasa aman dan nyaman walaupun dari daerah lain dengan suku yang berbeda. Sedangkan agama yang dianut masyarakat Karo beraneka ragam. Dan hal ini tidak pernah diperbincangkan apabila bertemu dengan sesama kecuali di tempat perkumpulan agama dan di rumah ibadah. Hal ini membuat masyarakat Karo hidup rukun antara sesama, baik sesama suku karo maupun dengan suku pendatang.
Demikian tulisan ini semoga bermanfaat bagi kita semuanya, bila terdapat kekurangan dan kelemahan meruapakan kelemahan saya sebagai penulis dalam mencari referensi pendukung dalam pembuatan tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Dyen, Isidore, A lexicostatistical classifcation of the Austronesian Languages. International Journal of American Linguistics 31, memoir 19.1965
Viner, A.C., The Changing Batak. Journal of the Malaysian Branch of Royal Asiatic Society ,1979
Singarimbun, Masri, Kinship, descent and alliance among Karo Batak, Berkeley: University of California Press.1975.
Tamboen, P., Adat Istiadat Karo. Djakarta: Balai Pustaka.1952
Priest Darwin, SH, Budaya Karo, Bina Media Printis, Medan 2000
Sitepu Sempa, dkk. Pilar Budaya Karo, BALI scan, Medan





[1] Dyen, Isidore, 1965, A lexicostatistical classifcation of the Austronesian Languages. International Journal of American Linguistics 31, memoir 19
[2] Viner, A.C., 1979, The Changing Batak. Journal of the Malaysian Branch of Royal Asiatic Society 52:84-112.

[3] Tamboen, P., 1952, Adat Istiadat Karo. Djakarta: Balai Pustaka
[4] e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara