Fish

Minggu, 08 Februari 2015

ISLAM DITINJAU DARI ASPEK TEOLOGI


                                                            BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang.
Teologi sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Setiap orang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari  teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing peredaran zaman.
Teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya adalah teologi dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid biasanya kurang mendalam dalam pembahasan dan kurang bersifat filosofis. Selanjutnya ilmu tauhid biasanya memberi pembahasan sepihak dan tidak mengemukakan pendapat dan paham dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang ada dalam teologi Islam. [1]
Oleh sebab itu pemahaman agama dapat di pahami dengan berbagai pendekatan studi islam. Berbagai pendekatan tersebut meliputi : pendekatan Teologis Normatif, Antropologis, Historis, dan politis. Adapun yang di maksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradikma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.


B A B II
ISLAM DITINJAU DARI ASPEK TEOLOGIS
A. Pendekatan Teologis Normatif dalam studi Islam
Pendekatan teologis normatif termasuk salah satu pendekatan studi islam yang cukup populer dikalangan umat islam. Pendapat ini dalam memahami agama dengan mengunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap yang paling benar dibandingkan dengan yang lainya.[2]
Dalam kamus inggris Indonesia, kata teologi diartikan ilmu agama,[3] sedangkan dalam arti istilah teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang masalah ketuhanan, sifat-sifat wajibnya, sifat-sifat mustahilnya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pmbuatanya [4]
Dengan demikian teologi adalah istilah ilmu agama yang membahas ajaran ajaran dasar dari suatu agama atau suatu keyakinan yang tertanam dihati sanubari. Setiap orang yang ingin memahami seluk beluk agamanya, maka perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang diyakininya.
Adapun kata normatif berasal dari bahasa ingris norm yang berarti norma, ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.[5] Sedangkan istilah normatif adalah prinsif prinsif atau pedoman pedoman yang menjadi petunjuk manusia pada umumnya untuk hidup bermasyarakat.
Pendekatan teologi daam pendekatan pemahaman keagmaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk formal atau simbol simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainya adalah salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa fahamnyalah yang paling benar sedangkan yang lainya adalah salah, sehingga memandang faham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya.
Pendekatan teologis ini erat kaitanya dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologi normatif ini agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlakdari tuhan, tidak ada kekurangan sedikitpun dan tempat bersikap ideal.
Dari uraian diatas, pendekatan ini menunjukkan adanya kekurangan, antara lain: bersifat eklusif, dogmatis, dan tidak mau mengakui kebenaran agama lain. Kekurangan pendekatan dapat dilengkapi dengan pendekatan sosiologis.
Sedangkan kelebihan dari pendekatan teologis normatif adalah melalui pendekatan ini seorang akan memiliki sikap mencintai dalam beragama yakni berpegang teguh kepada agama yang diyakininya sebagai yang bnar tanpa memandang dan meremehkan agama lain. Dengan pendekatan yang demikian seseorang akan memiliki sikap fanatis terhadap agama yang dianutnya[6]
Klasifikasi atau pembidangan ilmu-ilmu agama islam erat hubungannya dengan perkembangan islam dalam sejarah. Tidak bisa dipungkiri bahwa ajaran islam mengalami perkembangan dalam sejarah, sejak zaman Nabi Muhammad Saw sampai ke zaman kita sekarang, dan akan terus berkembang lagi pada masa depan.
Ajaran-ajaran islam tidak turun sekaligus begitu saja dari langit melainkan diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Saw. Sesuai dengan perkembangan umat islam pada zaman beliau hidup. Alqur’an datang untuk meluruskan keyakinan manusia dengan membuat ajaran tauhid. Tauhid adalah suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang wajib tetap pada Nya. Sifat-sifat yang lebih disifatkan kepadaNya dan tentang sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padaNya.
Sesungguhnya fitrah manusia tentang keyakinan tentang keEsaan Allah telah terbantuk.[7] 
B.        Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat di artikan sebagagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktis keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Antropologi dalam kaitan ini sebagai mana dikatakan Dewan Raharjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisipatif. Penelitian antropologi yang induktif, yaitu turun kelapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya pembebasan diri kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagai mana yang dilakukan dibidang sosiologis dan lebih-lebih ekonomi yang mengunakan model model matematis.
Karl marx (1818-1883) sebagai contoh melihat agama sebagai opium atau candu masyarakat tertentu sehingga mendorongnya untuk memperkenalkan teori konflik atau yang biasa disebut dengan teori pertentangan kelas. Lain hanya dengan Max Weber (1964-1920). Dia melihat adanya korelasi positif antara ajaran protestan dengan munculnya semangat munculnya kapitalisme modern. Etika protestan dilihatnya sebagai cikal bakal etos kerja masyarakat industri yang modern yang kapitalistik.
Melalui pendekatan antropologis sebagaimana disebut di atas, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, maka jika kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaanya.
Selanjutnya melaui pendekatan antropologis ini, kita dapat mlihat agama dalam hubunganya dengan mekanisme pengorganisasian. Seperti kasus di Indonesia, peneliti Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java dapat dijadikan contoh Yang baik dalam hal ini, Geertz melihat adanya klasifikasi social dalam masyarakat muslim di Java, antara santri, priyayai dan abangan.
Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan adanya, karena banyak berbagai hal yang di bicarakan agama hanya bias dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam alquran alkarim, sebagai sumber utama ajaran islam misalnya kita memperoleh informasi tentang kapan nabi nuh di gunung Arafat, kisah ashabul kafi yang dapat bertahan dalam gua lebih dari tiga ratus tahun.
Dengan demikian pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraiyan dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dengan cabang cabangnya.[8]
Salah satu konsep kunci terpenting dalam antropologi modern adalah holisme, yaknipandangan bahwa praktik praktik sosial harus diteliti dalm konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang di teliti. Para antropologis harus melihat agama dan praktik praktik pertanian, kekeluargan dan politik, magig dan pengobatan “secara bersama-sama maka agama tidak bisa dilihat sebagai system otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainya.[9]
C.        Pendekatan Historis
Sejarah atau histories adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idialis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idialis dengan yang ada dalam alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini kuntowijaya telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang yang dalam hal ini islam menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan alquran itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah seejarah dan perumpamaan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya karena pemahaman demikiian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya.seseorang yang ingin memahami alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunya alquran atau kejadian kejadian yang mengiringi turunya alquran yang selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab an Nuzul (ilmu tentang sebab sebab turunya ayat ayat alquran) yang pada intinya berisi sejarah turunya ayat alquran. Dengan ilmu asbabun Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya[10]
Dengan menggunakan pendekatan sejarah ada lima teori yang bisa digunakan, yaitu:
1. Idealisme approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan.
2. Reductionalist approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan.
 3. Diakronik adalah penelusuran sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti.
 4. Sinkronik adalah kontekstualisasi atau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti.
 5. Teori adalah sistem nilai atau budaya.
         Sang tokoh dan budaya dimana dia hidup. Pada penelitian diakronik, sinkronik dan teori adalah penelitian yang menulusuri latar belakang dan perkembangan fenomena yang lengkap dengan sejarah sosio-historis dan nilai budaya yang mengitarinya.[11]
D.       Pendekatan Politis
Secara harfiah, politik dapat diartikan sebagai usaha atau rekayasa yang diatur sedemikian rupa dalam rangka mencapai tujuan. Dengan pengertian ini politik yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan istilah al-siyasah berlaku pada semua aspek kehidupan seperti pendidikan, keluaraga, ekonomi, budaya, keagamaan, dan lain sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, politik sering dikaitkan dengan urusan pemerintahan tersebut, tampakmya yang paling menonjol dibandingkan dengan pengertian politik lainya.
Persoalan selanjutnya, apakah politik yang menentukan corak pendidikan, atau sebaliknya yang menentukan corak politik dalam kaitan ini terdapat perdebatan dikalangan para ahli. Hasan lang gulung, mislnya: lebih melihat bahwa politiklah yang menentukan corak pendidikan. Ketika berbicara mengenai asas asas pendidikan hasanlanggulung berpendapat bahwa bahwa politik berfungsi memberi bingkai idiologi (kaidah) dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita citakan dan rencana yang telah dibuat. Dengan demikian politik berperan sebagai cita-cita dan pandangan hidup yang mengarahkan gerak langkah pendidikan. Politik yang bersifat demokratis akan mewarnai pelaksanaan pendidikan yang emokratis. Sebaiknya, politik yang bercorak otoriter totaliter akan mempengarui pelaksanaa pendidikan yang bercorak totaliter dan otoriter pula.
Dalam sejarah islam, hububgab antara pendidikan dengan politik juga dapat dilacak pada masa-masa pertumbuhan paling subur dalam lembaga-lembaga pendidikan islam, semacam marasah sepanjang sejarah terdapat hubungan yang amat erat antara pendidikan dengan politik. Kenyataan ini, misalnya, dapat dilihat dari pendirian bayak madrasah di timur tengah yang disponsori oleh penguasa publik. Contoh paling terkenal dalam hal ini adalah madrasah Nishamiyah di Bagdad yang didirikan sekitar tahun1064 M oleh Wazir Nizham Dinasti saljuk, Nizam al-Mulk, di madrasah ini terkenal adanya seorang pemikir bsar al-ghozali yang menjadi salah seorang mahagurunya.
       Siknifikansi dan implikasi politik dan pengembangan madrasah atau pendidikan islam, pada umumnya, bagi para penguasa muslim sudah jelas. Madrasah-madrasah tersebut didirikan untuk menunjang kepentingan-kepentingan politik tertentu dari penguasa muslim, diantaranya untuk menciptakan dan memperkokoh citra penguaa sebagai orang orang yang mempunyai kesalehan, minat, dan kepedulian kepada kepentingan umat, dan ini lebih penting lagi sebagai pembeda antara ortodoksi dan lainya. Semua ini, menurut Azyumardi Azra, pada giliranya akan memperkuat legitimasi penguasa berkaitan dengan rakyat yang mereka pimpin.[12]

 
BAB III
P  E  N  U  T  U  P
A.     Kesimpulan
Pendekatan teologis sangat erat kaitanya dengan pendekatan normatif, dan bisa dikatakan sama yaitu suatu pendekatan pendekatan yang memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.
Pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.
Sejarah atau histories adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsure tempat, waktu,objek, latar belakang dan peleku dari peristiwa tersebut.
Pendekatan secara politis mempunyai siknifikasi dan implikasi politik untuk menunjang kepentingan kepentingan politik tertentu dari penguasa muslim, diantaranya untuk menciptakan dan memperkokoh citra penguasa sebagai orang orang yang mempunyai kesalehan minat dan kepedulian kepada kepentingan umat, dan lebih penting lagi sebagai pembeda antara ortodoksi dan lainya.
Demikian makalah yang dapat kami susun. Tentunya dalam penguraian di atas masih banyak pengurangan dan kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan. Untuk itu apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan dalam uraian, kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kelompok kami khususnya dan bagi para para pembaca umumnya amin. 

DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Ilmu Pendekatan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, Jakarta : raja grafindo persada.
Abudin Nata, , Metodologi Studi Iislam, Jakarta :rajawali pers, 2009.
Abudin Nata, Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia, Jakarta: rajagrafindo, 2001.
Harun Nasution, Teologi Islam aliran-aliran sejarah analisa Perbandingan, Jakarta,UIP, 2002
John M.echols, KamusIingris Indonesia,Jakarta :gramedia, 1979.
Khoirudin Nasution, Pengantar Studi Islam, yogyakarta: Academia,  2009
Peter Connoly, Aneka Pendekatan Studi Agama,Yogyakarta :PT lkis, 2009,


[1] Harun Nasution, Teologi Islam aliran-aliran sejarah analisa Perbandingan,UIP, 2002, hal. ix
[2] Abudin nata, Metodologi studi islam, (Jakarta :rajawali pers, 2009), hlm.28.
[3] John M.echols, kamus ingris Indonesia,(Jakarta :gramedia, 1979), cet VII, hlm 586.
[4] Abudin nata, peta keragaman pemikiran islam di Indonesia, (Jakarta :rajagrafindo, 2001), cet.2, hlm.28.
[5] John M,echols, op.cit.,hlm.396.
[6] Abudin, Nata, metodologi studi islam, Op.cit.,hlm.34.
[7] Khoirudin, nasution, pengantar studi islam, (yogyakarta :2009), hlm.223.
[8] Abudinata, opcit, halm. 35-38.
[9] Peter connoly, Aneka pendekatan studi agama, (yogyakarta: PT. Lkis, 2009). Halm 34.
[10] Abuddin nata, metodologi studi islam, (Jakarta : 2008), halm. 35-38.
[11] Khoirudin, nasution, pengantar studi islam, (yogyakarta :2009), hlm.223-224.
[12] Abuddin nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, (Jakarta: 2008). Halm.295-298.

Kamis, 27 November 2014

BENTUK KEGIATAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM



1.    Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Islam disini adalah: pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yg dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yg sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yg utama menurut ukuran Islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik utk diarahkan mengikuti jalan yg islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
Pendidikan Agama Islam dikembangkan dengan menempatkan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa sebagai spirit dalam proses pengelolaan dan pembelajaran. Hal ini ditunjukan antara lain dengan mengintegrasikan wawasan keagamaan pada kurikulum pendidikan, menciptakan suasana keberagamaan pada kurikulum pendidikan, mengutamakan keteladanan dalam perilaku dan amalan keagamaan aparat pengelola dan pendidik, menyediakan dukungan bahan dan sarana pembelajaran seperti kitab suci, buku referensi keagamaan dan tempat ibadah. Namun demikian, pelaksanaan kurikulum pendidikan terkadang masih belum sepenuhnya menjadi alat perubahan nilai budaya masyarakat, tetapi masih lebih mengutamakan mengajarkan nilai-nilai budaya lama. Peserta didik kurang dibekali dengan realitas yang berkaitan dengan hakekat hidup dan kehidupan sehari-hari yang dialami di lingkungan tempat tinggalnya. Peserta didik lebih diarahkan untuk memperoleh ijazah setinggi-tinggi dan mempersiapkannya untuk menjadi pegawai dalam suatu instansi dan kurang menstimulus mereka untuk menjadi seorang peserta didik yang berbudaya, khususnya budaya keberagamaan. Untuk itu kurikulum seharusnya menjadikan guru dan peserta didik mampu menyadari pentingnya budaya keberagamaan dalam kehidupanya.
Pendidikan agama Islam pada berbagai jenjang persekolahan dituntut untuk menyesuaikan dan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi di masyarakat. Perubahan ini sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sesuai dengan prinsip pengembangan kurikulum yaitu tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, khususnya dalam pembelajaran.
Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi pada penerapan Standar Nasional Pendidikan. Dalam proses pembelajaran bukan hanya terjadi transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik atau dari peserta didik kepada peserta didik lainnya, namun juga terjadi proses transfer kebudayaan yaitu terjadinya penanaman nilai-nilai, norma-norma, atau adat kebiasaan. Peserta didik adalah subjek yang melakukan akulturasi kebudayaan. Peserta didik mempelajari dan mengamalkan nilai, norma, atau kebiasaan yang ada di masyarakat. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan seperti pengembangan metode pembelajaran pendidikan agama Islam, pengembangan kultur budaya Islami dalam proses pembelajaran, dan pengembangan kegiatan-kegiatan kerokhanian Islam dan ekstrakurikuler. Dalam rangka menindaklanjuti hal tersebut maka dilaksanakan kegiatan yang langsung melibatkan pelaku utama pendidikan yaitu peserta didik.
Wujud dari kegiatan ini antara lain diselenggarakannya kegiatan keterampilan dan seni pendidikan agama Islam. Kegiatan ini sangat penting dalam rangka memberikan semangat dan gairah baru bagi para pendidik, peserta didik, atau yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Selain itu juga diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan budaya keberagamaan (religious culture) di lingkungan sekolah. Kegiatan-kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) agar semakin kokoh pada para peserta didik di kalangan sekolah/madrasah yaitu SD-MI, SMP-MTs, SMA-MA dan SMK, mempererat ukhuwah Islamiyah, membawa persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa sesama peserta didik sekolah/madrasah.
 Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosional dan Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan berkaitan dengan keberagamaan (religious), dan ada pula gabungan dari EQ dan SQ ini yaitu ESQ (Emotional Spiritual Quotient. Daniel Goleman[1] beranggapan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat sebagian besar sekitar 80% ditentukan oleh kecerdasan emosi dan hanya 20% ditentukan oleh faktor kecerdasan kognitif (IQ). Intelegent Quotient (IQ) adalah kecerdasan intelektual atau kecerdasan otak kiri. Kecerdasan otak kiri menekankan pada peserta didik untuk menguasai kemampuan kognitif atau akademik, seperti membaca, menulis, berhitung. atau berupa hafalan, sehingga tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan semangat untuk belajar. Keberhasilan akademik peserta didik diukur dengan nilai angka dan ranking bukan pada proses belajar. Tujuannya mencetak peserta didik pandai di bidang akademik kognitif, maka materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kiri saja yang diperhatikan yaitu bahasa dan logis matematik.
Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosional atau kecerdasan otak kanan. Materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kanan seperti kesenian atau musik. Beberapa aspek emosi-sosial yang menentukan keberhasilan peserta didik antara lain rasa percaya diri (confidence), rasa ingin tahu (curiosity), kemampuan mengontrol diri (self control), kemampuan bekerja sama (cooperation) ataupun mandiri, memiliki sifat jujur (honesty), bisa dipercaya (amanah), bekerja tepat waktu, mampu dan cepat menyesuaikan diri dengan orang lain, mempunyai motivasi kuat meningkatkan kualitas diri, mampu berkomunikasi, mampu menyelesaikan masalah.
Kematangan emosi-sosial menentukan keberhasilan peserta didik di sekolah, di masyarakat, dan dalam kehidupannya. Kematangan emosi ditandai antara lain mempunyai rasa percaya diri, rasa sabar, mematuhi instruksi, dan mampu bekerja sama dengan kelompok. Peserta didik menjadi sumber daya manusia yang bisa bekerja, terampil, rajin, tekun, kerja keras dan cerdas, percaya diri dengan kemampuan sendiri. Kecerdasan emosi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang secara alami. Peserta didik dapat mengembangkan fungsi otak kanan, sehingga akan memudahkan menguasai pelajaran yang diberikan guru. Peserta didik mengalami proses sosial emotional learning (kecerdasan emosi), joyful learning (belajar yang menyenangkan), dan active learning (peserta didik terlibat aktif). Peserta didik sebagai subjek pendidikan bukan hanya objek. Oleh karena itu sekolah seharusnya memberikan lingkungan yang dapat menumbukan rasa senang dan gembira kepada peserta didik. Pada diri peserta didik akan tumbuh rasa cinta untuk belajar, tidak perlu dipaksakan dengan perintah atau pelajaran terlalu kaku, membebani, dan membosankan, sehingga hasilnya tidak optimal.
Peserta didik yang tidak mempunyai bekal kompetensi emosional, spiritual, dan sosial sering tidak berhasil dalam masa-masa belajar di sekolah. Kehidupannya akan menghadapi berbagai masalah emosi, perilaku, akademik, dan perkembangan sosial. Mereka mengalami rendahnya rasa percaya diri dan keingintahuan, ketidakmampuan mengontol diri, rendahnya motivasi, kegagalan bersosialisasi, ketidakmampuan bekerja, dan rendahnya rasa empati. Untuk itu, guru perlu memberikan bekal yang penting bagi peserta didik dengan menciptakan kematangan emosi-sosialnya.
Kematangan emosi-sosial peserta didik akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. Kematangan emosi sosial pun berpengaruh terhadap kesehatan fisik peserta didik, yaitu mampu mengendalikan tekanan-tekanan (stress) yang dialaminya, karena jika tidak dikendalikan akan menimbulkan berbagai penyakit. Perilaku guru dalam proses pendidikan, pengajaran, atau pola asuhnya yang diterapkannya di dalam sekolah kepada peserta didik pasti berpengaruh dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Keberhasilan peserta didik mengatasi konflik kepribadian dalam dirinya sangat menentukan keberhasilan dalam kehidupan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku itu antara lain kedekatan emosi (emotional bonding), pemberian atau sentuhan kasih sayang. Untuk itu proses pendidikan tidak hanya mementingkan kecerdasan otak kiri atau IQ saja tetapi juga mementingkan kecerdasan otak kanan atau EQ atau kecerdasan emosional dan Spiritual Quotient (SQ).
Prinsip Pendidikan Agama Islam adalah interkoneksitas antara ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Untuk itu kurikulum pembelajaran dalam pendidikan agama Islam lebih banyak mengenai dasar pembentukan intelek dan komunikasi dengan dunia luar, karena hal ini dianggap sebagai upaya “memanusiakan manusia.” Manusia dibedakan dari jenis makhluk hidup lain karena ia mempunyai intelektual. Oleh karenanya upaya memanusiakan manusia dilakukan dengan mengembangkan inteleknya. Orang berpendidikan dipandang sebagai kaum intelektual yang termasuk kaum elite. Kelas sosial tertinggi adalah mereka yang memperoleh pendidikan tinggi; makin rendah tingkatan pendidikan makin rendah kelas sosialnya.
 Tujuan pendidikan adalah memperbaiki intelek dengan mendisiplin mentalnya. Namun demikian kurikulum sepatutnya tidak dimaksudkan untuk semata-mata membentuk intelek, tetapi diarahkan agar peserta didik dapat mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan fungsi kehidupan. Selain itu ada pula budaya yang disampaikan dalam pembelajaran hanya berisi informasi yang bersifat praktis dan realistis, dengan tujuan mendidik keterampilan yang esensial dan berguna untuk hidup produktif.
2.  Bentuk Kegiatan Menumbuhkan Budaya Keberagaman            (Relegious Culture).
          Kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan budaya keberagamaan (religious culture) di lingkungan sekolah antara lain:
a.  Melakukan kegiatan rutin, yaitu pengembangan kebudayaan keberagamaan secara rutin berlangsung pada hari-hari belajar biasa di sekolah. Kegiatan rutin ini dilakukan dalam kegiatan sehari-hari yang terintegrasi dengan kegiatan yang telah diprogramkan, sehingga tidak memerlukan waktu khusus. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama bukan hanya guru agama saja melainkan juga tugas dan tanggung jawab guru-guru bidang studi lainnya atau sekolah. Pendidikan agama pun tidak hanya terbatas pada aspek pengetahuan, tetapi juga meliputi pembentukan sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan. Untuk itu pembentukan sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan pun tidak hanya dilakukan oleh guru agama, tetapi perlu didukung oleh guru-guru bidang studi lainnya.
b.  Menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung dan menjadi laboratorium bagi penyampaian pendidikan agama, sehingga lingkungan dan proses kehidupan semacam ini bagi para peserta didik benar-benar bisa memberikan pendidikan tentang caranya belajar beragama. Dalam proses tumbuh kembangnya peserta didik dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, selain lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Suasana lingkungan sekolah dapat menumbuhkan budaya keberagamaan (religious culture). Sekolah mampu menanamkan sosialisasi dan nilai yang dapat menciptakan generasi-generasi yang berkualitas dan berkarakter kuat, sehingga menjadi pelaku-pelaku utama kehidupan di masyarakat. Suasana lingkungan sekolah ini dapat membimbing peserta didik agar mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin dan semangat sehingga akhirnya menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya.
c.   Pendidikan agama tidak hanya disampaikan secara formal oleh guru agama dengan materi pelajaran agama dalam suatu proses pembelajaran, namun dapat pula dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa memberikan pendidikan agama secara spontan ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Manfaat pendidikan secara spontan ini menjadikan peserta didik langsung mengetahui dan menyadari kesalahan yang dilakukannya dan langsung pula mampu memperbaikinya. Manfaat lainnya dapat dijadikan pelajaran atau hikmah oleh peserta didik lainnya, jika perbuatan salah jangan ditiru, sebaliknya jika ada perbuatan yang baik harus ditiru.
d.  Menciptakan situasi atau keadaan keberagamaan. Tujuannya untuk mengenalkan kepada peserta didik tentang pengertian agama dan tata cara pelaksanaan agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga menunjukkan pengembangan kehidupan keberagamaan di sekolah yang tergambar dari perilaku sehari-hari dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh guru dan peserta didik. Oleh karena itu keadaan atau situasi keagamaan di sekolah yang dapat diciptakan antara lain pengadaan peralatan peribadatan seperti tempat untuk shalat (masjid atau mushalla), alat-alat shalat seperti sarung, peci, mukena, sajadah atau pengadaan Al Quran. Selain itu di ruangan kelas bisa pula ditempelkan kaligrafi, sehingga peserta didik dibiasakan selalu melihat sesuatu yang baik. Selain itu dengan menciptakan suasana kehidupan keagamaan di sekolah antara sesama guru, guru dengan peserta didik, atau peserta didik dengan peserta didik lainnya. Misalnya, dengan mengucapkan kata-kata yang baik ketika bertemu atau berpisah, mengawali dan mengakhiri suatu kegiatan, mengajukan pendapatan atau pertanyaan dengan cara yang baik, sopan, santun tidak merendahkan peserta didik lainnya, dan sebagainya.
e.  Memberikan kesempatan kepada peserta didik sekolah/madrasah untuk mengekspresikan diri, menumbuhkan bakat, minat dan kreativitas pendidikan agama Islam dalam keterampilan dan seni, seperti membaca Al Quran, adzan, sari tilawah, serta untuk mendorong peserta didik sekolah mencintai kitab suci, dan meningkatkan minat peserta didik untuk membaca, menulis serta mempelajari isi kandungan Al Quran. Dalam membahas suatu materi pelajaran agar lebih jelas guru hendaknya selalu diperkuat oleh nas-nas keagamaan yang sesuai berlandaskan pada Al Quran dan Hadits Rasulullah saw. Tidak hanya ketika mengajar saja tetapi dalam setiap kesempatan guru harus mengembangkan kesadaran beragama dan menanamkan jiwa keberagamaan yang benar. Guru memperhatikan minat keberagaman peserta didik. Untuk itu guru harus mampu menciptakan dan memanfaatkan suasana keberagamaan dengan menciptakan suasana dalam peribadatan seperti shalat, puasa dan lain-lain.
f.   Menyelenggarakan berbagai macam perlombaan seperti cerdas cermat untuk melatih dan membiasakan keberanian, kecepatan, dan ketepatan menyampaikan pengetahuan dan mempraktekkan materi pendidikan agama Islam. Mengadakan perlombaan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi peserta didik, membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, menambah wawasan dan membantu mengembangkan kecerdasan serta menambahkan rasa kecintaan. Perlombaan bermanfaat sangat besar bagi peserta didik berupa pendalaman pelajaran yang akan membantu mereka untuk mendapatkan hasil belajar secara maksimal. Perlombaan dapat membantu para pendidik dalam mengisi waktu kekosongan waktu peserta didik dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka dan pekelahian pelajar dapat dihindarkan. Dari perlombaan ini memberikan kreativitas kepada peserta didik dengan menanamkan rasa percaya diri pada mereka agar mempermudah bagi peserta didik untuk memberikan pengarahan yang dapat mengembangkan kreativitasnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam perlombaan itu antara lain adanya nilai pendidikan di mana peserta didik mendapatkan pengetahuan, nilai sosial, yaitu peserta didik bersosialisasi atau bergaul dengan yang lainnya, nilai akhlak yaitu dapat membedakan yang benar dan yang salah, seperti adil, jujur, amanah, jiwa sportif, mandiri. Selain itu ada nilai kreativitas dapat mengekspresikan kemampuan kreativitasnya dengan cara mencoba sesuatu yang ada dalam pikirannya. Salah satu contoh perlombaan adalah lomba berpidato. Peserta didik diberikan kesempatan berpidato untuk melatih dan mengembangkan keberanian berkomunikasi secara lisan dengan menggunakan teks atau tanpa teks menyampaikan pesan-pesan Islami. Menjadi ahli pidato yang efektif menuntut para peserta didik mengembangkan kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif dan penuh percaya diri, serta mampu merumuskan dan mengkomunikasikan pendapat dan gagasan di berbagai kesempatan dan keadaan. Peserta didik diharapkan mampu mendakwahkan ajaran agama dengan benar, tidak sebaliknya berpidato atau berkomunikasi yang merendahkan agama.
g.  Diselenggarakannya aktivitas seni, seperti seni suara, seni musik, seni tari, atau seni kriya. Seni adalah sesuatu yang berarti dan relevan dalam kehidupan. Seni menentukan kepekaan peserta didik dalam memberikan ekspresi dan tanggapan dalam kehidupan. Seni memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengetahui atau menilai kemampuan akademis, sosial, emosional, budaya, moral dan kemampuan pribadinya lainnya untuk pengembangan spiritual rokhaninya. Untuk itu pendidikan seni perlu direncanakan dengan baik agar menjadi pengalaman kreatif yang jelas tujuannya. Melalui pendidikan seni, peserta didik memperoleh pengalaman berharga bagi dirinya, mengekspresikan sesuatu tentang dirinya dengan jujur dan tidak dibuat-buat. Untuk itu, guru harus mampu menyadarkan peserta didik untuk menemukan ekspresi dirinya.
            Melalui pendidikan seni peserta didik dilatih untuk mengembangkan bakat, kreatifitas, kemampuan, dan keterampilan yang dapat ditransfer pada kehidupan. Melalui seni para peserta didik akan memperoleh pengalaman dan siap untuk memahami dirinya sendiri secara mandiri. Peserta didik yang mandiri mampu memahami gaya belajar mereka sendiri, disiplin dalam belajar bukan karena tekanan pihak lain, sehingga mereka mampu mengkenali, mengidentifikasi dan memahami kekuatan dan kelemahan kemampuannya mengembangkan bakat dan minatnya.
        Selain itu juga untuk menghadapi berbagai tantangan, baik dalam belajar maupun dalam kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Peserta didik dikondisikan agar mampu mengkomunikasikan apa yang dilihat, didengar, diketahui, atau dirasakannya. Peserta didik mampu membuat dan mengembangkan perasaan, imajinasi, dan gagasan secara ekspresif agar menjadi hidup yang berguna bagi pengembangan diri. Pembelajaran seni di sekolah memiliki kontribusi dalam sikap belajar seumur hidup (life long learning).
        Selama waktu belajar di sekolah atau di luar waktu belajar, peserta didik diharapkan selalu melakukan aktivitas seni untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan seni pada dasarnya dirancang untuk membantu peserta didik untuk belajar seumur hidup dengan memiliki pengetahuan, pemahaman, pemikiran, atau komunikasi yang efektif. Melalui pelajaran seni di sekolah, para peserta didik dilibatkan untuk menciptakan dan mengekspresikan gagasan dan perasaan dalam bentuk ucapan, tulisan, pendengaran atau gerakannya.
Salah satu bidang seni yang diselenggarakan adalah seni nasyid. Nasyid adalah seni vocal yang kadang-kadang dilengkapi dengan alat music. Tujuan nasyid antara lain untuk melatih dan mengembangkan keberanian, penjiwaan, keindahan, keserasian dan kemampuan mengaransemen seni modern yang islami. Nasyid mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan mengeksresikan diri dalam bentuk vokal atau bunyi-bunyian alat-alat musik. Peserta didik belajar untuk menginterpretasikan atau mengekspresikan emosi atau jiwa spiritual di dalam bernyanyi atau bermusik. Dengan bernyanyi atau bermusik peserta didik mendapatkan kepuasan lahir dan bathinnya sehingga menjadi landasan yang baik untuk meningkatkan semangat belajarnya.                     Nasyid biasanya berisikan lagu-lagu atau syair syair manis berupa pujian yang menyenangkan perasaan  atau hati. Nasyid ini dapat dijadikan cara yang cukup efektif untuk membantu peserta didik dalam memahami berbagai persoalan, seperti tentang kehidupan, rasa cinta kepada sesama manusia atau kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagainya. Nasyid dengan menggunakan bahasa dan intonasi yang mudah dipahami mempunyai pengaruh yang baik bagi pertumbuhan jiwa dan bahasa peserta didik. Apalagi kalau disertai dengan gerakan-gerakan yang mudah untuk dilakukan. Serasinya antara suara dengan gerakan atau antara lagu/syair-syair dengan gerakan-gerakan yang mengikutinya dapat menyenangkan perasaan dan menenangkan hati peserta didik.

3.  Budaya Keberagamaan dengan Kecakapan Hidup
Pembelajaran yang menekankan pada kebudayaan keber- agamaan bisa dilakukan dengan menerapkan pendekatan kecakapan hidup (life skill). Manfaat atau dampak yang positif kecakapan hidup bagi peserta didik antara lain dalam kecakapan personal yang diperoleh peserta didik dapat menumbuhkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pondasi dalam membentuk dan mengembangkan akhlak mulia, rasa percaya diri, kemandirian, harga diri, dan kasih sayang kepada orang lain.
Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu berkaitan keyakinan terhadap agama atau kepercayaan, pengabdian dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang menciptakan semua makhluk hidup dan alam semesta. Peserta didik pun diarahkan agar menjadi manusia yang memiliki akhlak mulia, yaitu memiliki atau menunjukkan ciri-ciri karakter akhlak mulia, seperti kejujuran, kesalehan, kesabaran, keberanian, kedermawanan, atau kehormatan, kasih sayang, hormat, toleran, pemberi maaf, rendah hati, dan baik hati.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.[2]