Rabu, 18 Desember 2013

TES SEBAGAI ALAT


A. Tes sebagai Alat Bantu
            Tes biasanya digunakan sebagai alat evaluasi/penilaian .Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinya    piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok[1]. Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau spikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.[2] Dari pengertian tersebut, maka setiap tes menuntut keharusan adanya respon dari subyek (orang yang dites) yang dapat disimpulkan sebagai suatu trait yang dimiliki oleh subyek yang sedang dicari informasinya. Dilihat dari wujud fisik, tes merupakan sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan/atau tugas yang harus dikerjakan yang nantinya akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis tertentu berdasarkan jawaban tertentu terhadap pertanyaan-pertanyaanatau cara dan hasil subjek dalam melakukan tugas-tugas tersebut.[3]
Tes sebagai alat penilaian dapat diartikan sebagai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Pada umumnya tes digunakan untuk mengukur dan menilai hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif yang berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.[4] Berdasarkan beberapa pengertian tes maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai tes yaitu sebagai berikut.[5]
1.      Tes adalah prosedur yang sistematik, maksudnya item-item dalam tes disusun   
2.      menurut cara dan aturan tertentu, prosedur administrasi tes dan pemberian angka terhadap hasilnya harus jelas dan dispesifikasi secara terperinci, dan setiap orang yang mengambil tes harus mendapat item-item yang sama dalam kondisi yang sebanding.
            3. Tes berisi sampel prilaku, meksudnya seluruh item dalam tes tidak akan mencakup seluruh materi isi yang mungkin ditanyakan sehingga harus dipilih beberapa item yang akan ditanyakan, dan kelayakan suatu tes tergantung pada sejumlah item-item dalam tes tersebut yang mewakili secara representatif kawasan prilaku yang diukur.
     4. Tes mengukur prilaku, item-item dalam tes hendaknya menunjukan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari subjek dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan atau mengerjakan tugas-tugas di dalam tes tersebut.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.
Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.
            B. Bentuk-Bentuk Tes
Berdasarkan sistem penskorannya, bentuk tes yang digunakan dalam lembaga pendidikan dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu tes objektif dan tes subjektif.
1. Tes Objektif
Tes objektif adalah bentuk tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respons yang harus dipilih oleh peserta tes. Pemeriksaan atau penskoran jawaban/respons peserta tes sepenuhnya dapat dilakukan secara objektif oleh pemeriksa dan dapat menggunakan alat bantu.
Kelebihan Tes objektif :
a. Lebih representatif mewakili isi dan luas bahan.
b. Lebih mudah dan cepat memeriksanya.
c. Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain.
d. Tidak terdapat unsur subjektifitas yang mempengaruhi dalam pemeriksaan maupun
    penskoran.
Kelemahan Tes Objektif :
a. Membutuhkan persiapan yang lebih sukit dari pada tes esai.
b. Butir soal cenderung hanya mengungkap ingatan dan pengenalan kembali.
c. Terdapat kesempatan spekulasi dan untung-untungan.

Tipe Tes Objektif
a. True false
Tipe soal yang butir soalnya terdiri pernyataan yang disertai dengan alternatif jawaban yaitu jawaban atau pernyataan yang benar dan yang salah.
b. Metching
Tipe tes xang butir soalnya bertipe menjodohkan/mencocokkan yang ditulis dalam dua kolom atau kelompok.
c. Muliple choice
Tipe tes dimana setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari satu, biasanya berkisaran 2 atau 5.
2. Tes Subjektif
Tes subjektif adalah bentuk tes yang biasanya berbentuk uraian/esai. Tes bentuk uraian adalah butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengkspresikan pikiran peserta tes.
Kelebihan Tes Uraian :
a. Dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks.
b. Meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan tes subjektif.
c. Mudah disiapkan dan disusun.
Kekurangan Tes Uraian
a. Reliabilitas rendah.
b. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memeriksa lembar jawaban dan tidak dapat diwakilkan ke orang lain.
c. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan.
            C. Alat (Mutu Alat) Evaluasi
Secara garis besar, alat evaluasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes dan nontes. Baik tes maupun nontes, keduanya dapat dipergunakan untuk mendapatkan informasi atau data-data penilaian tentang subjek yang dinilai secara berhasil guna jika dipakai secara tepat. Artinya, kita harus dapat menentukan kapan mempergunakan tes dan kapan mempergunakan nontes. Pemilihan secara tepat terhadap kedua jenis alat penilaian tersebut tak dapat dipisah dari tujuan penilaian dan jenis informasi yang diharapkan.


[1] Zainul, Asmawi dan Noehi Nasoetion, 2005. Ujian nasional: penilaian atau evaluasi?. http://www.fajar.co.id. Diakses hari kamis tanggal 6 Oktoberl 2011.

[2] Zainul, Asmawi dan Noehi Nasoetion, Penilaian hasil belajar. (Jakarta: PAU-PPAI. 1993).

[3] Anzwar, Saifuddin.Tes prestasi. (Yogyakarta: Pustaka pelajar.1987)

[4] Sudjana, Nana. Penilaian hasil proses belajar mengajar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004).

[5] Anzwar, Saifuddin. Op.cit,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar